A dream

Dalam suatu mimpi saya mendaftar kompetisi menulis buku. Kompetisi ini kecil-kecilan, pesertanya hanya 10an orang, dan bukunya ditulis tangan dan diilustrasi sendiri dan harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu sekitar 1-2 jam. Sayangnya, sebelum saya memulai mengerjakan buku itu, saya harus parkir sepeda dan dalam proses itu, sepeda saya rusak — beberapa bagian sepeda saya lepas, mur baut di mana-mana. Jadi saya mulai memperbaiki sepeda sebisa saya. Beberapa orang datang membantu memperbaiki sepeda. Meskipun banyak bantuan, ini sepeda saya, jadi saya yang tahu benar cara memperbaikinya, jadi saya harus stay di sana dan menyelesaikan perbaikan sepeda. Akhirnya sepeda selesai diperbaiki, meski banyak bagian yang masih rusak di sana-sini. Saya kembali ke tempat kompetisi. Ternyata kompetisinya sudah selesai dan panitia sedang mempersiapkan untuk mengumumkan pemenang. Saya menangis dan menjelaskan alasan keterlambatan saya — berharap mereka bisa mengerti dan memberikan tambahan waktu. Tapi tidak ada yang peduli meski saya menangis tersedu-sedu. Kompetisi telah berakhir.

What a metaphor.

***

Advertisements

Kegagalan adalah keberhasilan yang tidak tercapai

Saya diberi deadline untuk submit thesis (Indo: disertasi) 20 April dan saya tidak berhasil memenuhinya. I applied for extension (have been granted one term). There you go.

Pada titik ini saya masih menulis thesis dan mengejar target baru. Jujur, menjaga motivasi itu sangat sulit. Satu, harapan untuk pulang setelah submit sudah pupus, dan itu artinya semakin lama saya di sini tanpa mudik. Mbak Toyib 2.0 deh. Dua, sebagai orang yang menyelesaikan SMP+SMA dalam 4 tahun, melebihi tahun keempat di Oxford itu rasanya panjang sekali seperti terowongan yang nggak ada ujungnya. Terakhir, ketidakberhasilan memenuhi target awal memberikan sense of failure. Man, saya nggak berhasil. Gimana coba kalau saya gagal lagi (memenuhi target baru)… jadi tambah jatuh self-esteem saya kalau dipikir-pikir terus.

Ya tapi namanya hidup, memang perlu ada gagal-gagalnya dikit kan. Gagal daftar beasiswa, gagal diterima kuliah, gagal memperseriusi gebetan, gagal bikin macaron (semua pernah saya alami). Memang nggak perlu gagal sendiri untuk ambil pengalaman sih kan bisa belajar dari kegagalan orang lain. Tapi nggak perlu juga membandingkan kegagalan (dan keberhasilan) diri sendiri dengan orang lain.

Anyway saya mau kasih sedikit tips nih. Saya paling sebel kalau disemangati dengan kata-kata “kamu pasti bisa”. Siapa elu menjamin saya pasti bisa?? Yang lebih tahu kan saya sendiri. Banyak yang bilang saya pasti bisa submit tepat waktu, buktinya saya nggak bisa. Oke, saya paham sih kalau niatnya baik. Tapi kan… saya lebih suka dibilangin “nggak papa kamu gagal atau berhasil we’ll always be on your side”. Lebih sweet kan hehe.

***

Zaman sudah berubah

Saya kuliah di luar negri salah satu motivasi terbesarnya adalah terinspirasi dari melihat Bapak yang dulu kuliah di Kanada (yang menjadikan saya nebeng lahir di sana juga). Saya melihat banyak pola pikir Bapak dan Ibu yang terpengaruh oleh pengalaman tinggal di luar negeri. Dan karena orang tua saya anggap lebih pengalaman dalam hal tinggal di luar negeri, saya sering tanya-tanya dan jadikan pengalaman mereka (dan ingatan saya yang samar-samar) sebagai rujukan.

Kemarin saya konsultasi sama Ibu, kira-kira barang apa ya yang perlu saya bawa pulang ke Indonesia nanti kalau sudah selesai kuliah, nanti sisanya saya wariskan ke orang lain/jual/buang. Masalahnya kan kalau naik pesawat jatah bagasinya terbatas, mau kirim paket ya lumayan juga bayar lagi. Sedangkan saya ingat dulu waktu pulang dari Kanada kami bawa banyak koper (ya 4 orang juga sih jadi jatahnya lebih banyak) dan kalau nggak salah ada yang dipaketkan juga. Yang saya ingat Bapak dan Ibu bawa mesin jahit, buku-buku tebal, sampai mainan-mainan saya dan Asma. Nah saya kan jadi kepikiran apa yang saya perlu bawa pulang.

Ibu tanya, lha barangmu yang paling berharga apa. Ya kayaknya barang saya gitu-gitu aja sih, baju, alat masak. Yang paling mahal kalau dijual ya mungkin sepeda (dan laptop, ponsel tapi itu sih sudah pasti dibawa pulang ya) tapi kan yakali bawa pulang sepeda, sudah pasti dijual ini kan. Barang-barang yang lain, bisa dengan mudah ditemukan di Indonesia. Kata Ibu zaman sudah berubah, sekarang sudah zaman global, mau beli apa-apa di Indonesia sudah ada.

Memang benar kayaknya sih — bahkan waktu saya pertama ke Eropa tahun 2011, belanja online belum ngetren, Gojek mungkin baru merintis, dan nggak punya Google map di ponsel bukanlah hal aneh (saya di Paris 2011-2013 bahkan nggak langganan internet mobile, kemana-mana modal print-print-an Google map atau peta analog – dan saya survived!!). Sekarang, semua berubah begitu cepat. Nah apalagi kalau mau menjadikan pengalaman Bapak dan Ibu di Kanada tahun 90an sebagai rujukan untuk survive di luar negeri di tahun 2018, tentunya sudah banyak sekali hal yang tidak lagi relevan.

Nampaknya, banyak penyesuaian yang perlu saya jalani jika saya pulang dan menetap di Indonesia tahun 2018, secara mindset saya masih sebagai pemudi Indonesia tahun 2011. Kejutan apa yang menanti saya nanti sepulang ke Indonesia for good, we’ll see.

***

Term terakhir

… telah tiba! Hillary 2018!

Ternyata lama juga sih jadi mahasiswa S3 itu. Sepanjang saya S3 saya menyaksikan anak teman saya dari yang baru keluar beberapa kata, sampai banyak ngomong, terus ibunya hamil lagi, dia punya adik, adiknya merangkak lalu bisa jalan kesana kemari…. dst. Sepanjang saya S3 saya menyaksikan teman saya mulai dari jomblo sampai menikah, punya anak, anaknya bisa jalan dan bisa high-5-an sama saya. Saya mulai S3 sewaktu Pak SBY sedang menjabat sebagai presiden dan kini orang sudah mulai heboh mau pilpres lagi tahun depan. Selama saya S3 saya menyaksikan voting Brexit dan kehebohan Trump menjadi presiden. Sewaktu saya mulai S3 saya masih pakai Galaxy mini yang nggak kompatibel untuk Path dan Line dan sekarang saya telah meninggalkan kedua app tersebut dan menggunakan Samsung A3 yang bisa untuk nonton Insta live para seleb (kok ya sempat). Sepanjang S3 saya berevolusi mulai dari yang cuma bisa bikin kue sekedar edible sampai nampak Instagramable, at least untuk ukuran saya sendiri.

Tapi sebagai akademisi apakah skill saya banyak berkembang? …. Kok saya nggak merasa tambah pinter ya.

Yang jelas saya bersyukur teman-teman saya (sebagian) belum bosan berteman sama saya meskipun tidak banyak perkembangan sejak 4 tahun yang lalu.

***

Ramadan lagi!

Alhamdulillah tahun ini saya masih dapat dipertemukan dengan bulan suci Ramadan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya kembali melewati Ramadan di lab, ribuan mil jauhnya dari keluarga, dan dalam musim panas yang berarti puasa >18 jam sehari. Sudah tidak kaget lagi sih karena saya sudah menjalaninya sejak 2011. Akankah ini jadi Ramadan terakhir saya di Eropa? Huaa….

Di penghujung Ramadan 2011, saya baru pertama kali berpergian jauh sendirian, untuk memulai studi di Paris. Kalau dipikir-pikir waktu itu saya masih muda dan polos banget lol. Saya (yang sekarang) mungkin nggak akan mengizinkan saya (umur 20) untuk merantau sendiri, tapi waktu itu sih saya nekat saja. Selain itu juga saya nekat berpuasa padahal lagi menempuh perjalanan jauh dari Jogja ke Paris, yang berarti jam puasanya jadi super panjang. Padahal sebenarnya kalau sedang perjalanan jauh kan nggak puasa nggak papa. Tapi waktu itu saya sampai kaget sendiri begitu menyadari ternyata saya kuat juga ya puasa panjang pertama sambil perjalanan jauh sambil angkat-angkat koper.

Sejak saat itu saya sudah nggak meragukan kemampuan saya untuk berpuasa di musim panas hehehe, alhamdulillah!

Tahun ini kebetulan saya nggak sengaja terjebak dalam kepengurusan Islamic Society (ISoc)-nya University of Oxford, yang berarti saya terlibat di banyak kegiatan keislaman selama bulan Ramadan. Awalnya saya nggak ada rencana untuk jadi pengurus sih tapi ada yang mencalonkan saya untuk jadi Graduate Welfare Officer, jadi setelah berpikir panjang, yasudah saya ambil saja kesempatan ini, why not. Nah seumur-umur saya belum pernah jadi pengurus di organisasi keislaman entah itu rohis di sekolah atau di kampus, jadi ini pengalaman baru untuk saya.

Konon kabarnya, ISoc-nya Oxford ini termasuk yang paling “inklusif” dibanding ISoc kampus-kampus lain di UK. Setiap kegiatannya, meski tentunya mengusung nilai-nilai Islami, selalu terbuka untuk siapapun dengan apapun latar belakang keagamaannya. Ya mungkin karena di tempat minoritas juga sih. Tapi buat saya seru saja melihat dan mengikuti kegiatan-kegiatan semisal, buka bersama bareng Jewish society, atau menyaksikan inter-faith service di chapel salah satu college yang disertai bacaan ayat-ayat Al Quran. Ada yang lucu seingat saya ketika salah satu calon pengurus ISoc menyampaikan rencana kegiatan pembuatan video ISoc yang akan dilaksanakannya, dia bilang, “Kita akan berusaha merepresentasikan keragaman anggota ISoc di video ini, dengan menampilkan sisters yang pakai hijab dan nggak pakai, juga brothers yang…. berjenggot dan tidak berjenggot(?)”

Anyway, bagi saya yang “terjebak” di organisasi mahasiswa Indonesia (PPI dan sebagainya) selama bertahun-tahun, pengalaman berorganisasi dengan mahasiswa non-Indonesia ini berharga dan menyenangkan, dan sangat recommended! Saya jadi dapat teman-teman baru, pengalaman baru, dan belajar banyak dari interaksi dengan orang dari berbagai latar belakang.

Kembali ke Ramadan, target saya nggak muluk-muluk sih tahun ini, saya ingin hidup lebih sehat dengan memperhatikan pola makan, dan juga saya ingin menyelesaikan report untuk confirmation of status yang sudah berlarut-larut tertunda. Semoga eksperimen di lab dan menulis paper di bulan Ramadan juga terhitung ibadah ya kalau disertai niat baik. Doakan saya bisa selesaikan dengan baik ya teman-teman pembaca 🙂

Ramadan mubarak!

***

(Review) Aisyah: Wanita yang Hadir dalam Mimpi Rasulullah

15803492_1279561302100047_8473822955766284288_n

Aisyah r.a. adalah sosok yang menginspirasi orang tua saya ketika menamai saya (Aishah – hanya beda ejaan sih, kata ibu buat kenang-kenangan kalau saya lahir di Kanada), jadi sewajarnya sih saya sudah mempelajari kisah beliau dari dulu-dulu. Tapi namanya saya, suka merasa alergi dengan hal-hal berbau sejarah. Itu sebelum saya menemui buku karya Sibel Eraslan ini – novel yang ditulis berdasar kisah nyata (atau mungkin tepatnya fakta sejarah), genre buku kesukaan saya.

Berbeda dengan novel-novel based-on-true-stories karya Torey Hayden atau Cathy Glass yang jadi bacaan favorit saya sebelum-sebelumnya, buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama namun diceritakan oleh orang lain, sehingga dapat dimaklumi bahwa ada keterbatasan dalam olah ceritanya yang tidak dialami sendiri (dan terpaut puluhan generasi). Saya yakin buku ini menarik banget untuk pembaca yang suka dengan kata-kata puitis (banyak puisi yang diselipkan di tiap chapternya), tapi sisi puitis saya mungkin perlu banyak diasah, jadi banyak bagian puisi panjangnya yang saya skip hehehe.

Bagian-bagian awal novel ini agak kurang sesuai dengan ekspektasi saya – saya mengharapkan lebih banyak ulasan tentang Aisyah r.a. sendiri sebagai seorang wanita, namun saya tangkap lebih banyak cerita sejarah kenabian Rasulullah di masa kanak-kanak Aisyah r.a. Bagusnya saya jadi belajar kembali kisah Nabi. Namun di separo ke belakang setelah pernikahan beliau, mulai banyak cerita mengenai karakter Aisyah r.a. yang menarik karena saya bisa membayangkan secara bagaimana kehidupan di zaman itu. Misalnya, cerita tentang relationship Aisyah r.a. dengan istri-istri Rasulullah yang lain. Settingnya juga diceritakan detail sehingga saya bisa berimajinasi tentang kehidupan masa itu, misal diceritakan detail denah rumah Rasulullah dan tempat beliau memberikan lecture di masa itu, yang begitu humble untuk level setingkat nabi.

Nah cuma karena novel yang saya baca ini versi Indonesianya (diterjemahkan dari bahasa Turki), ada kalimat-kalimat yang terasa banget kalau itu versi terjemahan. Ya sayangnya sih saya nggak bisa bahasa Turki jadi nggak bisa baca aslinya….

Overall, maybe not so much my cup of tea tapi bacaan yang saya bisa baca sampai selesai dan merasa “nggak sia-sia” membacanya karena banyak menambah pengetahuan.

Terima kasih banyak kepada yang membelikan ♥

***

 

 

Makanya!

“Makanya nikah dong, biar ada yang bisa digandeng jalan-jalan!”

Bagaimana perasaan Anda membaca kalimat di atas?

Bandingkan dengan kalimat-kalimat berikut ini:

“Makanya kuliah di Oxford dong, biar bisa ngerasain belajar di universitas terbaik di dunia!” – atau, “Makanya kerja di *** dong, biar bisa dapat gaji banyak untuk nyicil apartemen!”

Kalimat pertama kok rasanya sering saya dengar, sedang kalimat kedua dan ketiga dianggap tabu untuk diutarakan.

Padahal yang berbicara dan lawan bicara sama-sama sepakat kalau jodoh, rejeki dan keturunan adalah hal-hal yang perlu diusahakan namun finalnya ada pada kehendak Yang Maha Kuasa.

Juga tidak jarang di media sosial saya melihat status haha hihi soal jomblo, pencarian jodoh, sampai ada yang mau buatkan kartu juga.

Padahal jodoh kan perkara serius, ini masalah pendamping seumur hidup lho! Juga masalah mempersiapkan keturunan dan pendidik untuk generasi yang akan datang. Ini apa nggak serius banget. Menurut saya ya harus di-approach dengan serius dong, bukannya jadi bahan guyonan.

***

Malam

DSC03867.JPG

Masih ada esok hari untuk memikirkan deadline yang terlewat, pekerjaan yang tertinggal, mimpi yang tidak realistis

Betapa malam adalah milikku seorang

Kini aku tinggal memejamkan mata dalam aroma minyak kayu putih, dan bersembunyi di bawah duvet

Tak seorangpun akan menemukanku

Seperti aku yang tak kunjung menemukan lelapku

Pantang berputus asa, aku mencoba meletakkan lelahku — namun tak membuahkan hasil

Malam, masih milikku seorang

Sekarang aku takut memejamkan mata

Karena ia tak membawaku kemana-mana

***

Fallen Petals

IMG_20170422_195501_759.jpg

Cercah optimisku selalu berprinsip: berkhayal itu bebas; berharap itu gratis

Tapi bukankah lebih baik patah hati betulan daripada tersesat dalam kehampaan lagi dan lagi?

Karena pada umumnya manusia menuntut closure sebagai prasyarat menapak lembaran baru

Namun cerita yang melibatkan lebih dari seorang manusia, tak selalu dapat memuaskan semua pihak

Selayaknya pun aku mendewasakan diri, berharap kepada Pencipta dan bukan kepada manusia

***

Kita Sering Lupa

Malam tadi saya ikutan makan bersama teman-teman graduate students di ISoc (Islamic Society) di Oxford. Kebetulan saya duduk di depan seorang postdoc dari India (pas banget makannya di restoran India jadi bisa dapat rekomendasi!) dan di sebelah postdoc dari Syria. Kami ngobrol macam-macam mulai dari politik, negara asal sampai penelitian (uhuk, sensitif nih buat mahasiswa tahun akhir).

Ketika mas-sebelah-saya kemudian berganti topik dan ngobrol dengan teman lain di sebelahnya, mas-depan-saya tiba-tiba menghela nafas dan menatap ke arah saya.

“Kalau dibanding dia, masalah kita rasanya nggak ada apa-apanya.”

Saya mengiyakan dalam diam, menunggu kalimat selanjutnya.

“Seburuk-buruknya yang terjadi, segagal-gagalnya kerjaanku di sini, aku masih bisa pulang [ke India],” lanjutnya, “tapi dia nggak bisa.”

Kalimat itu begitu menohok, pahit, hingga tanpa sadar mulut saya terbuka. Mungkin karena sebelumnya kami saling cerita tentang suka duka PhD, paperworks yang membuat pusing, penelitian yang tidak selalu lancar. Saya seperti diguncang kenyataan bahwa saya sering cengeng cuma karena, misalnya, berselisih paham dengan supervisor.

Ketika saya tersadar untuk kembali menarik nafas, saya menjawab, “Iya benar. Aku sering lupa kalau dikasih begitu banyak kesempatan dan kemudahan.”

Semoga kita semua selalu jauh dari lupa bersyukur.

***