Cowok paling romantis sedunia

Adik saya yang paling kecil, Ahmad, adalah seorang autistik yang low verbal. Meskipun dia kesulitan berkomunikasi, tapi kadang ada saja caranya untuk menyampaikan sesuatu, yang kadang membuat kami sekeluarga tersenyum akan kepolosannya.

Setiap kali saya pulang kampung, Ahmad butuh waktu untuk memproses perubahan yang terjadi di rumah. “Mbak Aish ke Oxford ya,” begitu selalu katanya ketika pertama bertemu saya setelah beberapa bulan berpisah, untuk ‘mengusir’ saya kembali ke Oxford. Tapi biasanya setelah satu-dua hari, Ahmad sudah bisa menerima keberadaan saya di rumah.

Ketika terakhir saya pulang, sekitar seminggu sebelum kembali ke Oxford saya mengkomunikasikan rencana kepergian saya lagi ke Ahmad.

“Ahmad, nanti tanggal 30 Desember Mbak Aish ke Oxford ya.”

Perlu beberapa detik bagi Ahmad untuk memproses informasi ini.

“Tiga puluh Januari ya,” sahut Ahmad menawar, supaya saya lebih lama di rumah.

“Wah nggak bisa Ahmad, Mbak Aish ke Oxford 30 Desember.” Ahmad tidak menjawab, melanjutkan fokusnya ke komputer di hadapannya. Ahmad tampak tidak peduli dan seakan tidak akan mengingat informasi ini.

Tanggal 30 Desember pagi, saya datang ke kamar Ahmad. Ahmad mengamati saya.

“Mbak Aish ke Oxford,” kata Ahmad. Rupa-rupanya dia masih ingat.

“Iya nanti siang Mbak Aish ke Oxford. Ahmad mau ikut ke airport?”

“Ahmad di rumah.”

Ada selang beberapa detik, kemudian Ahmad meraih tangan saya. Dia mengamati jari saya satu per satu, lalu berhenti di jari telunjuk kanan saya yang tidak sempurna akibat kecelakaan lalu lintas sekitar delapan tahun yang lalu.

“Iya ini sakit, Ahmad.”

“Rusak,” kata Ahmad. “Rumah sakit ya.”

Ahmad tahu persis kalau rumah sakit adalah tempat ‘memperbaiki’ (kata Ahmad: ‘repair’) kalau ada bagian tubuh yang rusak. Beberapa bulan lalu ketika kedua tulang paha Ahmad slip akibat kejang waktu sakit panas, Ahmad mengalami sendiri ‘perbaikan’ kakinya di rumah sakit (sampai sekarang Ahmad belum bisa jalan karena masih proses penyembuhan). Jadi Ahmad ingin saya ke rumah sakit dan memperbaiki jari saya supaya normal kembali.

“Iya nanti ya,” janji saya, meski saya tidak yakin akan menepatinya.

***

2017

Malam pergantian tahun saya lalui dengan cukup… absurd. Dan dingin. Saya baru tiba di Heathrow setelah liburan akhir tahun, kemudian menunggu bus ke Oxford. Memang reduced service sih karena NYE tapi harusnya ada beberapa bus dari jam 20:30 sampai 22:00. Lah kok entah kenapa busnya delayed… sampai jam 12 malam. Datang-datang supirnya bilang, “Happy new year!”. Walah. Saya sudah nggak punya energi untuk jengkel, cuma senang karena akhirnya bisa masuk bus yang ada penghangatnya.

Dan sekarang saya kembali harus fokus bekerja di lab. Tahun 2016 kemarin benar-benar roller coaster deh, naik turunnya cukup ekstrim. Well, banyakan turunnya sih, tapi ada pencapaian juga, misalnya publish paper, terus juga presentasi di conference.

Selanjutnya, untuk tahun 2017 ini target yang ingin saya capai adalah…

Studi

  • Lolos ‘confirmation of status’ di bulan 3 atau 4
  • Publish paper minimal 1 lagi
  • Presentasi di conference besar (pengennya sih microTAS di US)
  • Submit thesis sebelum pergantian tahun

Karir

  • Sebelum submit harus sudah jelas nih mau apa setelahnya
  • Setarakan ijazah S2 (kalau ada kesempatan pulang)
  • Diskusikan peluang untuk kembali ke JTF (kalau ada kesempatan pulang)

Relationship

… target ini berubah-ubah, tapi yasudahlah (dulu pengen nikah umur 30an, tapi trus pengen punya anak cepet-cepet biar pas awal karir anaknya udah settle… tapi ya kan masih cari “investor” lol). Fokus ke relationship sama Allah dulu.

Family

  • Telpon ke rumah regularly
  • Support atau paling nggak ngikutin perkembangan studi adik-adik (abisnya dikasih tahu pada nggak dengerin sih)

Kesehatan

  • Nggak pasang target olahraga deh, kayaknya nggak ada semangat buat ngejalaninnya
  • Stabil secara mental, paling nggak jangan sampe ngeganggu kerjaan
  • Disiplin waktu masuk kerja dan pulang kerja

***

Apa Adanya

Jacqueline Wilson adalah salah satu penulis favorit saya. Beliau banyak menulis novel anak-anak, terutama tentang anak dari keluarga yang punya banyak masalah. Tokoh paling terkenal yang dikarangnya adalah Tracey Beaker, anak perempuan 10 tahun yang tinggal di panti asuhan. Di 3 novel tentang Tracey Beaker, sudut pandang yang digunakan adalah dari Tracey sendiri, dan kita bisa melihat karakter Tracey yang pemberani, nakal, suka berantem dan bikin masalah, tapi juga sensitif dan ingin punya orang tua asuh.

Buku yang paling berkesan buat saya berjudul ‘Starring Tracey Beaker’. Di situ diceritakan Tracey – yang sangat ingin dikunjungi mamanya – mendapat peran dalam drama natal di sekolah, yang kemudian diberhentikan oleh kepala sekolahnya saat Tracey ketahuan berantem dengan temannya. Di situ kemudian Tracey menangis, mengamuk dan menjerit-jerit – tantrum deh pokoknya. Hal yang membuat saya tersentuh adalah meskipun Tracey begitu nakal dan bikin masalah, pengasuhnya di panti asuhan tetap selalu ada untuk menenangkannya (meski Tracey dikasih hukuman atas perbuatannya). Sederhana memang, dan tadinya saya juga bingung kenapa saya ikutan emosional ketika membaca bagian Tracey dipeluk dan dijemput dari sekolah setelah meraung-raung.

Kayaknya saya iri berat sama Tracey yang selalu diperhatikan dan disayang meskipun dia habis berulah. Kadang kan ada waktu di hidup saya di mana saya pengen ngamuk dan ngambek, tapi ditahan karena saya sudah ‘dewasa’.

Juga waktu saya nonton variety Korea Annyeonghaseyo/Hello Counsellor tentang anak yang diduga mengalami selective mutism, yang mana semua orang di sekitarnya mensupport dan memuji si anak supaya bisa pede bicara di sekolahnya, saya ikutan emosional.

Sepertinya itu karena seumur hidup saya dan terutama pas saya remaja, saya dianggap sebagai anak pintar di sekolah dan di rumah. Kalau saya nggak berprestasi akademis, saya mungkin dianggap anak aneh. Saya agak sulit untuk fit in dan bukan anak gaul sama sekali. Beruntungnya saya punya prestasi di olimpiade sains dan senang sekali waktu itu bisa skip sekolah beberapa minggu sampai bulan untuk ikut pelatihan olimpiade. Saya selalu menganggap bahwa (ada) orang (yang) suka dan baik sama saya karena saya pintar.

Makanya saya jadi berambisius untuk berprestasi (akademis). Kalau saya punya pencapaikan kan bisa diposting di media sosial dan orang pada ‘like’. Baru belakangan ketika saya mulai jenuh dan prestasinya agak stagnan, saya jadi nggak pede ketemu orang. Saya juga pernah agak bandel seperti Tracey Beaker yang membuat supervisor saya berubah sikap. Saya dihantui kekhawatiran kalau saya gagal maka orang tidak akan lagi menyukai saya.

Begitulah saya baru paham arti banyak lagu yang memuat kata-kata “mencintai apa adanya”, suatu konsep yang asing dan ingin saya rasakan. Yang seharusnya saya rasakan dari keluarga, tapi entah kenapa saya juga merasa disayang karena ‘pintar’ ini tadi.

***

Antara Berharap dan Tidak Berharap

Pada suatu sore saya sedang berada di kereta menuju London untuk menghadiri sebuah acara. Kebetulan saya satu kereta dengan Mas Rahmat yang saat itu menjabat sebagai ketua PPI Oxford. Di sela obrolan kami ada satu hal yang dikatakan Mas Rahmat yang membuat saya terkesan, meski saya tidak ingat persis redaksinya, yaitu mengenai harapan. Menurut Mas Rahmat, harapan adalah driving force terpenting dalam banyak aspek kehidupan. Saat itu saya tidak langsung menyetujuinya karena kadang – karena pengalaman kecewa di masa lalu – ketika saya dalam situasi di mana harapan saya mulai berkembang, saya justru mundur sama sekali. Namun dalam kasus seperti ini pun, harapan tetap menjadi faktor yang mempengaruhi langkah ke depannya.

Termasuk dalam urusan cinta, kata-kata semacam ‘pemberi harapan palsu’, ‘berhenti berharap’ dan ‘pupus sudah harapanku’ sering menjadi catchphrase terutama dalam kasus patah hati. Dari curhatan dengan teman-teman cewek, saya berkesimpulan, setelah baru patah hati bedanya move on dan belum move on terletak pada apakah masih berharap atau sudah tidak. Jadi, perkara harapan ini begitu krusial!

Sering setelah saya mendengar curhatan teman cewek yang baru putus dengan cowoknya, mereka bilang cowoknya begini-begitu, menyebalkan, mau move on. Tapi setelah ditelusuri, ternyata mereka masih ‘membela’ entah perilaku cowok itu atau keadaan hubungan mereka, berharap ada yang akan berubah dan mereka kembali bersama. Seorang teman KKN, sebut saja Putri, beralasan, “Ya gimana lagi, sudah terlanjur sayang sih.” Teman lain, sebut saja Jen, yang masih dalam tahap pendekatan, sempat curhat tentang seorang lelaki yang memainkan perasaannya – yang selalu saya sarankan untuk, ya tinggalkan saja, kecuali memang dia suka perasaannya dimainkan. Apa yang Jen lakukan selanjutnya hanya bisa membuat saya menduga bahwa memang dia suka perasaannya dimainkan.

Salahkah? Mungkin memang naluri manusia untuk defensif dan mempertahankan harapannya. Sering kita dengar orang yang berkeinginan kuat untuk sembuh dari penyakit (i.e. berharap) akhirnya sembuh dengan didorong semangatnya. Barangkali juga nenek moyang kita bertahan hidup di lingkungan yang keras karena punya harapan tentang hidupnya. Tapi dalam konteks “terlanjur sayang” seperti kata Putri ini tadi, kadang harapan tidak sejalan dengan realitas. Dan bisa jadi harapan yang tidak realistis ini menutup jalan harapan yang lain (misal ada orang lain yang lebih jodoh). Jadi berharap itu baik tapi harus dengan pikiran yang jernih dan tidak menggantungkan kebahagiaan kita pada orang lain. Kata orang, berharaplah kepada Allah, jangan pada manusia.

Tapi ya tidak bisa dipungkiri bahwa dalam beberapa kasus kadang saya terus berharap melebihi rasionalitas saya, menipu diri sendiri yang mengatakan mau move on.

***

Serakah?

Manusia memang tidak pernah puas. Setelah satu target tercapai, pasang target baru yang lebih tinggi. Semakin tinggi, semakin sulit mencapainya. Dan kadang jadi terlupa untuk menikmati prosesnya.

Adalah sebuah lagu cinta akustik sederhana yang mengingatkan saya akan masa-masa di mana kebahagiaan itu begitu sederhana.

***

Tentang Plan B

Dalam hidup ketika merencanakan sesuatu entah itu studi, karir, bisnis dan sebagainya kita sering didorong untuk memiliki plab B disamping plan A yang menjadi keinginan utama kita. Jadi waktu plan A gagal, kita sudah siap untuk menggarap plan B. Bahkan kadang ada plan C, plan D, dan seterusnya. Tapi apa ini berlaku juga untuk masalah jodoh?

Seorang teman perempuan yang sedang menjajaki lelaki yang menjadi plan A-nya, berpendapat bahwa dia tidak setuju apabila si lelaki memiliki plan B (dan C, D, dst) disamping dirinya. Dia merasa tidak rela dan cemburu ketika dia mencurigai bahwa si lelaki memiliki ‘Plan B’, meski komunikasi si lelaki ke Plan B tidak seintens ke si teman. Teman saya ini merasa lebih baik dia mundur saja daripada ‘diduakan’, meski mereka belum mencapai tahap hubungan yang ‘resmi’. Dia merasa tidak adil karena dia sendiri hanya fokus pada satu orang lelaki saja.

Sedangkan seorang teman laki-laki berpendapat bahwa bagi laki-laki adalah hal yang lumrah untuk memiliki plan B (dan C, D, dst) – meskipun tetap yang menjadi target utama adalah si ‘Plan A’. Teman saya ini mengatakan dia tetap berkomunikasi dengan ‘Plan B’ meskipun tidak seintens komunikasi ke ‘Plan A’.

Saya sendiri meski saya perempuan tapi saya tidak terlalu masalah dengan konsep plan B ini. Soalnya saya juga pernah memiliki plan A, B, C dalam urusan lelaki meskipun mostly plan tersebut hanya pada sampai taraf imajinasi dikarenakan keadaan, kesibukan dan prioritas yang menyulitkan pendekatan. Selama belum ada ikatan resmi buat saya it’s ok apabila ‘Plan A’ saya menjadikan saya ‘Plan A’-nya sementara ia memiliki ‘Plan B’. Toh kan saya yang berada di puncak prioritasnya.

Yang menyedihkan adalah ketika ‘Plan A’ saya menjadikan saya sebagai ‘Plan B’-nya.

***

Mimpi

Sewaktu pertama memulai S3, saya sering bermimpi mengejar jadwal pesawat. Buru-buru packing, tergesa ke bandara, takut ketinggalan penerbangan.

Akhir-akhir ini saya sering bermimpi benar-benar ketinggalan pesawat.

Sepertinya memang mimpi itu merefleksikan kekhawatiran saya dalam mengejar ekspektasi sebagai mahasiswa S3.

***

168*

Seberapa jauh kamu sudah mengenal dirimu sendiri?

Waktu saya mengerjakan Tugas Akhir (TA) S1, saya menemukan (salah satu) alasan mengapa saya enjoy melakukan penelitian: karena dengan meneliti saya jadi lebih mengenal diri saya sendiri.

Sebelum-sebelumnya, sewaktu kuliah kan saya selalu hanya mengikuti silabus, mengikuti jadwal kuliah, mengikuti ujian. Tapi waktu penelitian TA, saya mengatur waktu sendiri, belajar memformulasikan masalah dan mencari solusi, juga mendorong diri sendiri sejauh mana saya mau menganalisis masalah tersebut. Dari situ saya belajar mengenal sejauh mana saya bisa bertahan untuk belajar dan keluar dari waktu-waktu di mana saya mencapai jalan buntu. Saya juga belajar bagaimana sikap saya secara natural ketika menghadapi masalah, deadline, tekanan, dan lain-lain, dan belajar untuk mengelola emosi dan reaksi terhadapnya dengan lebih baik.

Dan sekarang saya menjalani studi S3, di mana saya mengerjakan yang mirip dengan penelitian TA S1 tapi dalam skala yang jauh lebih besar. Plus, saya menjalaninya di negara yang jauh berbeda dengan tempat saya dibesarkan, hidup sendiri dengan beasiswa, dan setiap hari bertemu orang-orang baru di dalam dan luar lab. Dengan demikian, sembari mengamati proses pendewasaan dari hasil semua penempaan itu, saya belajar mengenal diri sendiri lagi secara besar-besaran.

Namun ternyata meski sudah memasuki tahun ketiga S3 (ya, saya sudah mau lulus, mau banget, tapi belum tahu kapan) saya masih menemukan hal-hal baru tentang diri saya sendiri. Saya baru sadar bahwa apa yang menurut saya orang lain pikirkan tentang saya tidak selalu sama dengan kenyataannya. Sounds obvious sih. Tapi yang saya pikirkan hampir selalu lebih negatif – saya sering tidak menyadari orang di sekitar saya begitu perhatian dan peduli dengan saya. Semakin saya memikirkannya, saya sadar bahwa itu karena rendahnya self-worth saya. Saya nggak merasa pantas dibegitukan. Meskipun diam-diam saya mengharapkannya juga.

Ada hal-hal yang hadir di kehidupan kita yang mungkin tidak berjalan sesuai yang kita inginkan, tapi hikmahnya kita bisa belajar tentang kehidupan dan diri kita sendiri – dan belajar menjadi orang yang lebih baik.

*168, jumlah jam dalam seminggu, adalah lagu favorit saya di album Dandelion by Monita

***

Lebaran lewat media sosial

Pertama-tama izinkan saya mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri bagi pembaca yang merayakannya! Semoga Allah SWT menerima puasa dan amal ibadah kita semua.

Alhamdulillah lebaran tahun ini kembali saya lalui di Oxford, setelah tahun lalu disempatkan untuk berlebaran di Jogja. Dua tahun lalu saya sholat id di salah satu lapangan sekolah di Oxford, meriah banget dengan barbecue, es krim dan permainan anak-anak. Tahun ini kabarnya panitia tidak dapat izin sholat id di lapangan – mungkin karena belum masuk waktu libur sekolah – jadi saya sholat id di Central Oxford Mosque atau yang biasa kami sebut “Manzil Mosque” karena letaknya di Manzil way.

Seusai sholat saya langsung menuju ke kampus karena ada workshop hari itu, lalu malamnya masak-masak dan makan bersama teman-teman serumah dan PPI Oxford. Cukup melelahkan terutama karena saya biasa tidur di pagi hari setelah sahur, tapi di hari raya tentu saja saya tidak bisa tidur pagi – dan harus saya akui tidur adalah kegiatan yang menjadi prioritas dalam hidup saya.

Tapi setelah hari lebaran itu, ya sudah, kehidupan kembali berjalan sebagaimana normalnya. Namun saya masih menyaksikan hingar bingar Idul Fitri melalui media sosial. Nampaknya tahun ini sedang ngetren posting foto kumpul keluarga dengan ucapan selamat hari raya. Dan berhubung saya sedang berada di usia di mana teman-teman seangkatan saya sudah menikah tahun lalu, saya pun disuguhi tontonan foto-foto senyum sumringah keluarga-keluarga kecil yang merayakan pertama kalinya sang buah hati berlebaran.

Hal ini kemudian secara natural menjadi bahan renungan saya di malam susah tidur gara-gara sudah kebiasaan sahur. Lebaran kali ini mungkin minim dengan pertanyaan “kapan” tapi bukan berarti galaunya secara otomatis terminimalisir juga.

Oke, di sini saya bukannya mau sok tahu karena minim pengalaman, tapi saya pikir, untuk seorang wanita memiliki pasangan hidup adalah sesuatu yang menentramkan dan meningkatkan kepercayaan diri. We all need to feel loved. Apalagi ketika “melepaskan” sahabat terdekat satu per satu kepada pacar atau suami/istrinya, pikiran-pikiran negatif suka muncul sendiri: what’s wrong with me? Am I not as attractive as them?

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya kehidupan saya sekarang sih baik-baik saja tanpa “si Mas”. Karena kebanyakan lihat foto-foto di media sosial saja kemudian saya melihat rumput-rumput yang lebih hijau dan segar. Dan barangkali, rumput di halaman belakang saya juga tampak menggiurkan untuk orang yang menengok laman media sosial saya. Tentu saja, kebanyakan orang hanya memposting kehidupan yang bagus-bagusnya saja.

Kesimpulannya, mari kurangi bermedia sosial dan kembalilah bekerja.

***

Brexit dan dampaknya

… (bagi saya).

Di suatu hari menjelang akhir pekan yang lumayan cerah untuk ukuran Inggris, saya terbangun — setengah terbangun gara-gara kecapekan habis menempuh perjalanan setengah dunia — dengan kabar menggemparkan yaitu hasil referendum menyatakan 52% voters memilih UK untuk keluar dari Uni Eropa, dan Perdana Menteri David Cameron yang mana adalah kakak kelas saya di Brasenose College, mengundurkan diri. Sebagai mahasiswa di Inggris, meskipun saya dari Indonesia, dampak yang saya rasakan adalah:

  1. Agak kaget dengan hasil referendum karena di Oxford kampanye remain sangat gencar, dan terbukti di Oxford sekitar 70% memilih remain.
  2. Jadi ada bahan obrolan pas tea break di lab — oke ini memang bulan Ramadan tapi saya pas lagi halangan sih kebetulan kemarin. Kebetulan saya kerja bareng orang Irlandia dan Jerman jadi seru aja mendengar pendapat mereka.
  3. Email masuk dari college, kepala departemen, kepala divisi kampus etc yang meyakinkan bahwa hak-hak civitas academia yang berasal dari Uni Eropa akan tetap dijaga dan kampus akan memastikan yang terbaik untuk semua anggotanya.
  4. Nilai £££ melemah di waktu kebetulan living allowance LPDP naik — jadi nilai beasiswa saya kalau dirupiahkan kurang lebih nggak berubah (malah turun dibanding tahun lalu). Jangan kirim uang ke rumah dulu berarti.
  5. Agak sedih dan ngeri mendengar berita banyak orang rasis di UK yang merasa bahwa mereka boleh berperilaku rasis sekarang melihat hasil referendum — salah besar.

Segitu saja yang dapat saya sampaikan, apabila ingin mengetahui dampak sosial, ekonomi, politik, hubungan internasional, dan sebagainya… ada banyak sumber lain yang dapat dipelajari — karena saya mengaku ahli teknik saja masih malu.

***