(Review) Aisyah: Wanita yang Hadir dalam Mimpi Rasulullah

15803492_1279561302100047_8473822955766284288_n

Aisyah r.a. adalah sosok yang menginspirasi orang tua saya ketika menamai saya (Aishah – hanya beda ejaan sih, kata ibu buat kenang-kenangan kalau saya lahir di Kanada), jadi sewajarnya sih saya sudah mempelajari kisah beliau dari dulu-dulu. Tapi namanya saya, suka merasa alergi dengan hal-hal berbau sejarah. Itu sebelum saya menemui buku karya Sibel Eraslan ini – novel yang ditulis berdasar kisah nyata (atau mungkin tepatnya fakta sejarah), genre buku kesukaan saya.

Berbeda dengan novel-novel based-on-true-stories karya Torey Hayden atau Cathy Glass yang jadi bacaan favorit saya sebelum-sebelumnya, buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama namun diceritakan oleh orang lain, sehingga dapat dimaklumi bahwa ada keterbatasan dalam olah ceritanya yang tidak dialami sendiri (dan terpaut puluhan generasi). Saya yakin buku ini menarik banget untuk pembaca yang suka dengan kata-kata puitis (banyak puisi yang diselipkan di tiap chapternya), tapi sisi puitis saya mungkin perlu banyak diasah, jadi banyak bagian puisi panjangnya yang saya skip hehehe.

Bagian-bagian awal novel ini agak kurang sesuai dengan ekspektasi saya – saya mengharapkan lebih banyak ulasan tentang Aisyah r.a. sendiri sebagai seorang wanita, namun saya tangkap lebih banyak cerita sejarah kenabian Rasulullah di masa kanak-kanak Aisyah r.a. Bagusnya saya jadi belajar kembali kisah Nabi. Namun di separo ke belakang setelah pernikahan beliau, mulai banyak cerita mengenai karakter Aisyah r.a. yang menarik karena saya bisa membayangkan secara bagaimana kehidupan di zaman itu. Misalnya, cerita tentang relationship Aisyah r.a. dengan istri-istri Rasulullah yang lain. Settingnya juga diceritakan detail sehingga saya bisa berimajinasi tentang kehidupan masa itu, misal diceritakan detail denah rumah Rasulullah dan tempat beliau memberikan lecture di masa itu, yang begitu humble untuk level setingkat nabi.

Nah cuma karena novel yang saya baca ini versi Indonesianya (diterjemahkan dari bahasa Turki), ada kalimat-kalimat yang terasa banget kalau itu versi terjemahan. Ya sayangnya sih saya nggak bisa bahasa Turki jadi nggak bisa baca aslinya….

Overall, maybe not so much my cup of tea tapi bacaan yang saya bisa baca sampai selesai dan merasa “nggak sia-sia” membacanya karena banyak menambah pengetahuan.

Thanks a lot untuk yang membelikan 🙂

***

 

 

Makanya!

“Makanya nikah dong, biar ada yang bisa digandeng jalan-jalan!”

Bagaimana perasaan Anda membaca kalimat di atas?

Bandingkan dengan kalimat-kalimat berikut ini:

“Makanya kuliah di Oxford dong, biar bisa ngerasain belajar di universitas terbaik di dunia!” – atau, “Makanya kerja di *** dong, biar bisa dapat gaji banyak untuk nyicil apartemen!”

Kalimat pertama kok rasanya sering saya dengar, sedang kalimat kedua dan ketiga dianggap tabu untuk diutarakan.

Padahal yang berbicara dan lawan bicara sama-sama sepakat kalau jodoh, rejeki dan keturunan adalah hal-hal yang perlu diusahakan namun finalnya ada pada kehendak Yang Maha Kuasa.

Juga tidak jarang di media sosial saya melihat status haha hihi soal jomblo, pencarian jodoh, sampai ada yang mau buatkan kartu juga.

Padahal jodoh kan perkara serius, ini masalah pendamping seumur hidup lho! Juga masalah mempersiapkan keturunan dan pendidik untuk generasi yang akan datang. Ini apa nggak serius banget. Menurut saya ya harus di-approach dengan serius dong, bukannya jadi bahan guyonan.

***

Malam

DSC03867.JPG

Masih ada esok hari untuk memikirkan deadline yang terlewat, pekerjaan yang tertinggal, mimpi yang tidak realistis

Betapa malam adalah milikku seorang

Kini aku tinggal memejamkan mata dalam aroma minyak kayu putih, dan bersembunyi di bawah duvet

Tak seorangpun akan menemukanku

Seperti aku yang tak kunjung menemukan lelapku

Pantang berputus asa, aku mencoba meletakkan lelahku — namun tak membuahkan hasil

Malam, masih milikku seorang

Sekarang aku takut memejamkan mata

Karena ia tak membawaku kemana-mana

***

Fallen Petals

IMG_20170422_195501_759.jpg

Cercah optimisku selalu berprinsip: berkhayal itu bebas; berharap itu gratis

Tapi bukankah lebih baik patah hati betulan daripada tersesat dalam kehampaan lagi dan lagi?

Karena pada umumnya manusia menuntut closure sebagai prasyarat menapak lembaran baru

Namun cerita yang melibatkan lebih dari seorang manusia, tak selalu dapat memuaskan semua pihak

Selayaknya pun aku mendewasakan diri, berharap kepada Pencipta dan bukan kepada manusia

***

Nggak Penting

Kadang ada hal-hal nggak penting yang terjadi dalam hidup yang rasa-rasanya kok ingin diceritakan ke orang lain, misalnya:

  1. Eksperimen gagal karena suatu kekonyolan diri sendiri
  2. Berhasil mengatasi wastafel mampet dengan cara yang radikal
  3. Gak punya teman jalan-jalan karena teman pada dikunjungi keluarga masing-masing
  4. Berhasil tidur awal setelah berhari-hari insomnia
  5. dll

Tapi kalau nggak ada orang yang secara reguler dicurhatin kok rasanya aneh mau tiba-tiba mengontak seseorang dan menceritakan hal-hal kurang penting tersebut – untuk apa bercerita yang memancing jawaban “so what?”. Akhirnya gejolak emosi senang dan sedih yang menyertai kejadian-kejadian nggak penting itu pun saya telan dalam tidur, berharap esok normal kembali.

***

Kita Sering Lupa

Malam tadi saya ikutan makan bersama teman-teman graduate students di ISoc (Islamic Society) di Oxford. Kebetulan saya duduk di depan seorang postdoc dari India (pas banget makannya di restoran India jadi bisa dapat rekomendasi!) dan di sebelah postdoc dari Syria. Kami ngobrol macam-macam mulai dari politik, negara asal sampai penelitian (uhuk, sensitif nih buat mahasiswa tahun akhir).

Ketika mas-sebelah-saya kemudian berganti topik dan ngobrol dengan teman lain di sebelahnya, mas-depan-saya tiba-tiba menghela nafas dan menatap ke arah saya.

“Kalau dibanding dia, masalah kita rasanya nggak ada apa-apanya.”

Saya mengiyakan dalam diam, menunggu kalimat selanjutnya.

“Seburuk-buruknya yang terjadi, segagal-gagalnya kerjaanku di sini, aku masih bisa pulang [ke India],” lanjutnya, “tapi dia nggak bisa.”

Kalimat itu begitu menohok, pahit, hingga tanpa sadar mulut saya terbuka. Mungkin karena sebelumnya kami saling cerita tentang suka duka PhD, paperworks yang membuat pusing, penelitian yang tidak selalu lancar. Saya seperti diguncang kenyataan bahwa saya sering cengeng cuma karena, misalnya, berselisih paham dengan supervisor.

Ketika saya tersadar untuk kembali menarik nafas, saya menjawab, “Iya benar. Aku sering lupa kalau dikasih begitu banyak kesempatan dan kemudahan.”

Semoga kita semua selalu jauh dari lupa bersyukur.

***

Cowok paling romantis sedunia

Adik saya yang paling kecil, Ahmad, adalah seorang autistik yang low verbal. Meskipun dia kesulitan berkomunikasi, tapi kadang ada saja caranya untuk menyampaikan sesuatu, yang kadang membuat kami sekeluarga tersenyum akan kepolosannya.

Setiap kali saya pulang kampung, Ahmad butuh waktu untuk memproses perubahan yang terjadi di rumah. “Mbak Aish ke Oxford ya,” begitu selalu katanya ketika pertama bertemu saya setelah beberapa bulan berpisah, untuk ‘mengusir’ saya kembali ke Oxford. Tapi biasanya setelah satu-dua hari, Ahmad sudah bisa menerima keberadaan saya di rumah.

Ketika terakhir saya pulang, sekitar seminggu sebelum kembali ke Oxford saya mengkomunikasikan rencana kepergian saya lagi ke Ahmad.

“Ahmad, nanti tanggal 30 Desember Mbak Aish ke Oxford ya.”

Perlu beberapa detik bagi Ahmad untuk memproses informasi ini.

“Tiga puluh Januari ya,” sahut Ahmad menawar, supaya saya lebih lama di rumah.

“Wah nggak bisa Ahmad, Mbak Aish ke Oxford 30 Desember.” Ahmad tidak menjawab, melanjutkan fokusnya ke komputer di hadapannya. Ahmad tampak tidak peduli dan seakan tidak akan mengingat informasi ini.

Tanggal 30 Desember pagi, saya datang ke kamar Ahmad. Ahmad mengamati saya.

“Mbak Aish ke Oxford,” kata Ahmad. Rupa-rupanya dia masih ingat.

“Iya nanti siang Mbak Aish ke Oxford. Ahmad mau ikut ke airport?”

“Ahmad di rumah.”

Ada selang beberapa detik, kemudian Ahmad meraih tangan saya. Dia mengamati jari saya satu per satu, lalu berhenti di jari telunjuk kanan saya yang tidak sempurna akibat kecelakaan lalu lintas sekitar delapan tahun yang lalu.

“Iya ini sakit, Ahmad.”

“Rusak,” kata Ahmad. “Rumah sakit ya.”

Ahmad tahu persis kalau rumah sakit adalah tempat ‘memperbaiki’ (kata Ahmad: ‘repair’) kalau ada bagian tubuh yang rusak. Beberapa bulan lalu ketika kedua tulang paha Ahmad slip akibat kejang waktu sakit panas, Ahmad mengalami sendiri ‘perbaikan’ kakinya di rumah sakit (sampai sekarang Ahmad belum bisa jalan karena masih proses penyembuhan). Jadi Ahmad ingin saya ke rumah sakit dan memperbaiki jari saya supaya normal kembali.

“Iya nanti ya,” janji saya, meski saya tidak yakin akan menepatinya.

***

2017

Malam pergantian tahun saya lalui dengan cukup… absurd. Dan dingin. Saya baru tiba di Heathrow setelah liburan akhir tahun, kemudian menunggu bus ke Oxford. Memang reduced service sih karena NYE tapi harusnya ada beberapa bus dari jam 20:30 sampai 22:00. Lah kok entah kenapa busnya delayed… sampai jam 12 malam. Datang-datang supirnya bilang, “Happy new year!”. Walah. Saya sudah nggak punya energi untuk jengkel, cuma senang karena akhirnya bisa masuk bus yang ada penghangatnya.

Dan sekarang saya kembali harus fokus bekerja di lab. Tahun 2016 kemarin benar-benar roller coaster deh, naik turunnya cukup ekstrim. Well, banyakan turunnya sih, tapi ada pencapaian juga, misalnya publish paper, terus juga presentasi di conference.

Selanjutnya, untuk tahun 2017 ini target yang ingin saya capai adalah…

Studi

  • Lolos ‘confirmation of status’ di bulan 3 atau 4
  • Publish paper minimal 1 lagi
  • Presentasi di conference besar (pengennya sih microTAS di US)
  • Submit thesis sebelum pergantian tahun

Karir

  • Sebelum submit harus sudah jelas nih mau apa setelahnya
  • Setarakan ijazah S2 (kalau ada kesempatan pulang)
  • Diskusikan peluang untuk kembali ke JTF (kalau ada kesempatan pulang)

Relationship

… target ini berubah-ubah, tapi yasudahlah (dulu pengen nikah umur 30an, tapi trus pengen punya anak cepet-cepet biar pas awal karir anaknya udah settle… tapi ya kan masih cari “investor” lol). Fokus ke relationship sama Allah dulu.

Family

  • Telpon ke rumah regularly
  • Support atau paling nggak ngikutin perkembangan studi adik-adik (abisnya dikasih tahu pada nggak dengerin sih)

Kesehatan

  • Nggak pasang target olahraga deh, kayaknya nggak ada semangat buat ngejalaninnya
  • Stabil secara mental, paling nggak jangan sampe ngeganggu kerjaan
  • Disiplin waktu masuk kerja dan pulang kerja

***

Apa Adanya

Jacqueline Wilson adalah salah satu penulis favorit saya. Beliau banyak menulis novel anak-anak, terutama tentang anak dari keluarga yang punya banyak masalah. Tokoh paling terkenal yang dikarangnya adalah Tracey Beaker, anak perempuan 10 tahun yang tinggal di panti asuhan. Di 3 novel tentang Tracey Beaker, sudut pandang yang digunakan adalah dari Tracey sendiri, dan kita bisa melihat karakter Tracey yang pemberani, nakal, suka berantem dan bikin masalah, tapi juga sensitif dan ingin punya orang tua asuh.

Buku yang paling berkesan buat saya berjudul ‘Starring Tracey Beaker’. Di situ diceritakan Tracey – yang sangat ingin dikunjungi mamanya – mendapat peran dalam drama natal di sekolah, yang kemudian diberhentikan oleh kepala sekolahnya saat Tracey ketahuan berantem dengan temannya. Di situ kemudian Tracey menangis, mengamuk dan menjerit-jerit – tantrum deh pokoknya. Hal yang membuat saya tersentuh adalah meskipun Tracey begitu nakal dan bikin masalah, pengasuhnya di panti asuhan tetap selalu ada untuk menenangkannya (meski Tracey dikasih hukuman atas perbuatannya). Sederhana memang, dan tadinya saya juga bingung kenapa saya ikutan emosional ketika membaca bagian Tracey dipeluk dan dijemput dari sekolah setelah meraung-raung.

Kayaknya saya iri berat sama Tracey yang selalu diperhatikan dan disayang meskipun dia habis berulah. Kadang kan ada waktu di hidup saya di mana saya pengen ngamuk dan ngambek, tapi ditahan karena saya sudah ‘dewasa’.

Juga waktu saya nonton variety Korea Annyeonghaseyo/Hello Counsellor tentang anak yang diduga mengalami selective mutism, yang mana semua orang di sekitarnya mensupport dan memuji si anak supaya bisa pede bicara di sekolahnya, saya ikutan emosional.

Sepertinya itu karena seumur hidup saya dan terutama pas saya remaja, saya dianggap sebagai anak pintar di sekolah dan di rumah. Kalau saya nggak berprestasi akademis, saya mungkin dianggap anak aneh. Saya agak sulit untuk fit in dan bukan anak gaul sama sekali. Beruntungnya saya punya prestasi di olimpiade sains dan senang sekali waktu itu bisa skip sekolah beberapa minggu sampai bulan untuk ikut pelatihan olimpiade. Saya selalu menganggap bahwa (ada) orang (yang) suka dan baik sama saya karena saya pintar.

Makanya saya jadi berambisius untuk berprestasi (akademis). Kalau saya punya pencapaikan kan bisa diposting di media sosial dan orang pada ‘like’. Baru belakangan ketika saya mulai jenuh dan prestasinya agak stagnan, saya jadi nggak pede ketemu orang. Saya juga pernah agak bandel seperti Tracey Beaker yang membuat supervisor saya berubah sikap. Saya dihantui kekhawatiran kalau saya gagal maka orang tidak akan lagi menyukai saya.

Begitulah saya baru paham arti banyak lagu yang memuat kata-kata “mencintai apa adanya”, suatu konsep yang asing dan ingin saya rasakan. Yang seharusnya saya rasakan dari keluarga, tapi entah kenapa saya juga merasa disayang karena ‘pintar’ ini tadi.

***

Antara Berharap dan Tidak Berharap

Pada suatu sore saya sedang berada di kereta menuju London untuk menghadiri sebuah acara. Kebetulan saya satu kereta dengan Mas Rahmat yang saat itu menjabat sebagai ketua PPI Oxford. Di sela obrolan kami ada satu hal yang dikatakan Mas Rahmat yang membuat saya terkesan, meski saya tidak ingat persis redaksinya, yaitu mengenai harapan. Menurut Mas Rahmat, harapan adalah driving force terpenting dalam banyak aspek kehidupan. Saat itu saya tidak langsung menyetujuinya karena kadang – karena pengalaman kecewa di masa lalu – ketika saya dalam situasi di mana harapan saya mulai berkembang, saya justru mundur sama sekali. Namun dalam kasus seperti ini pun, harapan tetap menjadi faktor yang mempengaruhi langkah ke depannya.

Termasuk dalam urusan cinta, kata-kata semacam ‘pemberi harapan palsu’, ‘berhenti berharap’ dan ‘pupus sudah harapanku’ sering menjadi catchphrase terutama dalam kasus patah hati. Dari curhatan dengan teman-teman cewek, saya berkesimpulan, setelah baru patah hati bedanya move on dan belum move on terletak pada apakah masih berharap atau sudah tidak. Jadi, perkara harapan ini begitu krusial!

Sering setelah saya mendengar curhatan teman cewek yang baru putus dengan cowoknya, mereka bilang cowoknya begini-begitu, menyebalkan, mau move on. Tapi setelah ditelusuri, ternyata mereka masih ‘membela’ entah perilaku cowok itu atau keadaan hubungan mereka, berharap ada yang akan berubah dan mereka kembali bersama. Seorang teman KKN, sebut saja Putri, beralasan, “Ya gimana lagi, sudah terlanjur sayang sih.” Teman lain, sebut saja Jen, yang masih dalam tahap pendekatan, sempat curhat tentang seorang lelaki yang memainkan perasaannya – yang selalu saya sarankan untuk, ya tinggalkan saja, kecuali memang dia suka perasaannya dimainkan. Apa yang Jen lakukan selanjutnya hanya bisa membuat saya menduga bahwa memang dia suka perasaannya dimainkan.

Salahkah? Mungkin memang naluri manusia untuk defensif dan mempertahankan harapannya. Sering kita dengar orang yang berkeinginan kuat untuk sembuh dari penyakit (i.e. berharap) akhirnya sembuh dengan didorong semangatnya. Barangkali juga nenek moyang kita bertahan hidup di lingkungan yang keras karena punya harapan tentang hidupnya. Tapi dalam konteks “terlanjur sayang” seperti kata Putri ini tadi, kadang harapan tidak sejalan dengan realitas. Dan bisa jadi harapan yang tidak realistis ini menutup jalan harapan yang lain (misal ada orang lain yang lebih jodoh). Jadi berharap itu baik tapi harus dengan pikiran yang jernih dan tidak menggantungkan kebahagiaan kita pada orang lain. Kata orang, berharaplah kepada Allah, jangan pada manusia.

Tapi ya tidak bisa dipungkiri bahwa dalam beberapa kasus kadang saya terus berharap melebihi rasionalitas saya, menipu diri sendiri yang mengatakan mau move on.

***