Tentang Plan B

Dalam hidup ketika merencanakan sesuatu entah itu studi, karir, bisnis dan sebagainya kita sering didorong untuk memiliki plab B disamping plan A yang menjadi keinginan utama kita. Jadi waktu plan A gagal, kita sudah siap untuk menggarap plan B. Bahkan kadang ada plan C, plan D, dan seterusnya. Tapi apa ini berlaku juga untuk masalah jodoh?

Seorang teman perempuan yang sedang menjajaki lelaki yang menjadi plan A-nya, berpendapat bahwa dia tidak setuju apabila si lelaki memiliki plan B (dan C, D, dst) disamping dirinya. Dia merasa tidak rela dan cemburu ketika dia mencurigai bahwa si lelaki memiliki ‘Plan B’, meski komunikasi si lelaki ke Plan B tidak seintens ke si teman. Teman saya ini merasa lebih baik dia mundur saja daripada ‘diduakan’, meski mereka belum mencapai tahap hubungan yang ‘resmi’. Dia merasa tidak adil karena dia sendiri hanya fokus pada satu orang lelaki saja.

Sedangkan seorang teman laki-laki berpendapat bahwa bagi laki-laki adalah hal yang lumrah untuk memiliki plan B (dan C, D, dst) – meskipun tetap yang menjadi target utama adalah si ‘Plan A’. Teman saya ini mengatakan dia tetap berkomunikasi dengan ‘Plan B’ meskipun tidak seintens komunikasi ke ‘Plan A’.

Saya sendiri meski saya perempuan tapi saya tidak terlalu masalah dengan konsep plan B ini. Soalnya saya juga pernah memiliki plan A, B, C dalam urusan lelaki meskipun mostly plan tersebut hanya pada sampai taraf imajinasi dikarenakan keadaan, kesibukan dan prioritas yang menyulitkan pendekatan. Selama belum ada ikatan resmi buat saya it’s ok apabila ‘Plan A’ saya menjadikan saya ‘Plan A’-nya sementara ia memiliki ‘Plan B’. Toh kan saya yang berada di puncak prioritasnya.

Yang menyedihkan adalah ketika ‘Plan A’ saya menjadikan saya sebagai ‘Plan B’-nya.

***

Mimpi

Sewaktu pertama memulai S3, saya sering bermimpi mengejar jadwal pesawat. Buru-buru packing, tergesa ke bandara, takut ketinggalan penerbangan.

Akhir-akhir ini saya sering bermimpi benar-benar ketinggalan pesawat.

Sepertinya memang mimpi itu merefleksikan kekhawatiran saya dalam mengejar ekspektasi sebagai mahasiswa S3.

***

168*

Seberapa jauh kamu sudah mengenal dirimu sendiri?

Waktu saya mengerjakan Tugas Akhir (TA) S1, saya menemukan (salah satu) alasan mengapa saya enjoy melakukan penelitian: karena dengan meneliti saya jadi lebih mengenal diri saya sendiri.

Sebelum-sebelumnya, sewaktu kuliah kan saya selalu hanya mengikuti silabus, mengikuti jadwal kuliah, mengikuti ujian. Tapi waktu penelitian TA, saya mengatur waktu sendiri, belajar memformulasikan masalah dan mencari solusi, juga mendorong diri sendiri sejauh mana saya mau menganalisis masalah tersebut. Dari situ saya belajar mengenal sejauh mana saya bisa bertahan untuk belajar dan keluar dari waktu-waktu di mana saya mencapai jalan buntu. Saya juga belajar bagaimana sikap saya secara natural ketika menghadapi masalah, deadline, tekanan, dan lain-lain, dan belajar untuk mengelola emosi dan reaksi terhadapnya dengan lebih baik.

Dan sekarang saya menjalani studi S3, di mana saya mengerjakan yang mirip dengan penelitian TA S1 tapi dalam skala yang jauh lebih besar. Plus, saya menjalaninya di negara yang jauh berbeda dengan tempat saya dibesarkan, hidup sendiri dengan beasiswa, dan setiap hari bertemu orang-orang baru di dalam dan luar lab. Dengan demikian, sembari mengamati proses pendewasaan dari hasil semua penempaan itu, saya belajar mengenal diri sendiri lagi secara besar-besaran.

Namun ternyata meski sudah memasuki tahun ketiga S3 (ya, saya sudah mau lulus, mau banget, tapi belum tahu kapan) saya masih menemukan hal-hal baru tentang diri saya sendiri. Saya baru sadar bahwa apa yang menurut saya orang lain pikirkan tentang saya tidak selalu sama dengan kenyataannya. Sounds obvious sih. Tapi yang saya pikirkan hampir selalu lebih negatif – saya sering tidak menyadari orang di sekitar saya begitu perhatian dan peduli dengan saya. Semakin saya memikirkannya, saya sadar bahwa itu karena rendahnya self-worth saya. Saya nggak merasa pantas dibegitukan. Meskipun diam-diam saya mengharapkannya juga.

Ada hal-hal yang hadir di kehidupan kita yang mungkin tidak berjalan sesuai yang kita inginkan, tapi hikmahnya kita bisa belajar tentang kehidupan dan diri kita sendiri – dan belajar menjadi orang yang lebih baik.

*168, jumlah jam dalam seminggu, adalah lagu favorit saya di album Dandelion by Monita

***

Lebaran lewat media sosial

Pertama-tama izinkan saya mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri bagi pembaca yang merayakannya! Semoga Allah SWT menerima puasa dan amal ibadah kita semua.

Alhamdulillah lebaran tahun ini kembali saya lalui di Oxford, setelah tahun lalu disempatkan untuk berlebaran di Jogja. Dua tahun lalu saya sholat id di salah satu lapangan sekolah di Oxford, meriah banget dengan barbecue, es krim dan permainan anak-anak. Tahun ini kabarnya panitia tidak dapat izin sholat id di lapangan – mungkin karena belum masuk waktu libur sekolah – jadi saya sholat id di Central Oxford Mosque atau yang biasa kami sebut “Manzil Mosque” karena letaknya di Manzil way.

Seusai sholat saya langsung menuju ke kampus karena ada workshop hari itu, lalu malamnya masak-masak dan makan bersama teman-teman serumah dan PPI Oxford. Cukup melelahkan terutama karena saya biasa tidur di pagi hari setelah sahur, tapi di hari raya tentu saja saya tidak bisa tidur pagi – dan harus saya akui tidur adalah kegiatan yang menjadi prioritas dalam hidup saya.

Tapi setelah hari lebaran itu, ya sudah, kehidupan kembali berjalan sebagaimana normalnya. Namun saya masih menyaksikan hingar bingar Idul Fitri melalui media sosial. Nampaknya tahun ini sedang ngetren posting foto kumpul keluarga dengan ucapan selamat hari raya. Dan berhubung saya sedang berada di usia di mana teman-teman seangkatan saya sudah menikah tahun lalu, saya pun disuguhi tontonan foto-foto senyum sumringah keluarga-keluarga kecil yang merayakan pertama kalinya sang buah hati berlebaran.

Hal ini kemudian secara natural menjadi bahan renungan saya di malam susah tidur gara-gara sudah kebiasaan sahur. Lebaran kali ini mungkin minim dengan pertanyaan “kapan” tapi bukan berarti galaunya secara otomatis terminimalisir juga.

Oke, di sini saya bukannya mau sok tahu karena minim pengalaman, tapi saya pikir, untuk seorang wanita memiliki pasangan hidup adalah sesuatu yang menentramkan dan meningkatkan kepercayaan diri. We all need to feel loved. Apalagi ketika “melepaskan” sahabat terdekat satu per satu kepada pacar atau suami/istrinya, pikiran-pikiran negatif suka muncul sendiri: what’s wrong with me? Am I not as attractive as them?

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya kehidupan saya sekarang sih baik-baik saja tanpa “si Mas”. Karena kebanyakan lihat foto-foto di media sosial saja kemudian saya melihat rumput-rumput yang lebih hijau dan segar. Dan barangkali, rumput di halaman belakang saya juga tampak menggiurkan untuk orang yang menengok laman media sosial saya. Tentu saja, kebanyakan orang hanya memposting kehidupan yang bagus-bagusnya saja.

Kesimpulannya, mari kurangi bermedia sosial dan kembalilah bekerja.

***

Brexit dan dampaknya

… (bagi saya).

Di suatu hari menjelang akhir pekan yang lumayan cerah untuk ukuran Inggris, saya terbangun — setengah terbangun gara-gara kecapekan habis menempuh perjalanan setengah dunia — dengan kabar menggemparkan yaitu hasil referendum menyatakan 52% voters memilih UK untuk keluar dari Uni Eropa, dan Perdana Menteri David Cameron yang mana adalah kakak kelas saya di Brasenose College, mengundurkan diri. Sebagai mahasiswa di Inggris, meskipun saya dari Indonesia, dampak yang saya rasakan adalah:

  1. Agak kaget dengan hasil referendum karena di Oxford kampanye remain sangat gencar, dan terbukti di Oxford sekitar 70% memilih remain.
  2. Jadi ada bahan obrolan pas tea break di lab — oke ini memang bulan Ramadan tapi saya pas lagi halangan sih kebetulan kemarin. Kebetulan saya kerja bareng orang Irlandia dan Jerman jadi seru aja mendengar pendapat mereka.
  3. Email masuk dari college, kepala departemen, kepala divisi kampus etc yang meyakinkan bahwa hak-hak civitas academia yang berasal dari Uni Eropa akan tetap dijaga dan kampus akan memastikan yang terbaik untuk semua anggotanya.
  4. Nilai £££ melemah di waktu kebetulan living allowance LPDP naik — jadi nilai beasiswa saya kalau dirupiahkan kurang lebih nggak berubah (malah turun dibanding tahun lalu). Jangan kirim uang ke rumah dulu berarti.
  5. Agak sedih dan ngeri mendengar berita banyak orang rasis di UK yang merasa bahwa mereka boleh berperilaku rasis sekarang melihat hasil referendum — salah besar.

Segitu saja yang dapat saya sampaikan, apabila ingin mengetahui dampak sosial, ekonomi, politik, hubungan internasional, dan sebagainya… ada banyak sumber lain yang dapat dipelajari — karena saya mengaku ahli teknik saja masih malu.

***

Because I love you

Bohong kalau dibilang saya tidak iri ketika saya tidak sengaja menguping tetangga mengobrol dengan pacarnya via Skype berlama-lama, atau ketika rekan sesama mahasiswa dikunjungi orang tua dan saudaranya jauh-jauh dari Indonesia. Pun saya hanya bisa menghela napas ketika beberapa teman menyatakan iri dengan kepulangan saya sebentar ke Indonesia beberapa hari lalu, yang padahal saya lakukan demi menengok dan membantu adik saya yang sakit dan waktunya pun saya habiskan hampir 100% di rumah. Juga ketika kepayahan dalam mengerjakan proyek penelitian, kritik dan tuntutan dari supervisor, terbiaskan oleh fatamorgana media sosial, seakan tidak ada yang dapat benar-benar memahami. Tapi saya bersyukur menjadi anak pertama dengan segala tanggung jawabnya. Menjadi bagian dari keluarga yang luar biasa yang membesarkan saya menjadi cewek yang kuat dan mandiri – paling tidak dalam ukuran saya sendiri. Karena semangat untuk bertahan itu datang dari cinta saya untuk mereka.

***

Suka duka puasa di Eropa

Kurang dari seminggu lagi insya Allah kita akan kembali dipertemukan dengan bulan Ramadan. Dan sejak 2012 lalu, sudah 4 kali saya mengalami Ramadan di Eropa, 2 kali di Perancis dan 2 kali di Inggris (sebenarnya malah sudah 5 kali kalau 3 hari terakhir Ramadan 2011 dihitung juga). Alhamdulillah saya selalu mendapat ‘jatah’ berpuasa Ramadan pada musim panas, yang berarti bisa hampir 20 jam seharinya tanpa makan dan minum. Tentunya jika dibayangkan, puasa di Eropa lebih ekstrim dari puasa di Indonesia, terlebih dengan status umat muslim sebagai minoritas di sini. Tapi sebenarnya sih kalau dijalani ya bisa saja. Kalau saya yang sering capek dan sakit saja bisa puasa, pasti kebanyakan orang sehat juga bisa hehe😀.

Duka tantangan berpuasa di Eropa:

  1. Kalau pas kena puncak musim panas, kadang suhunya bisa super-panas. Saya teringat pernah waktu puasa di Paris dan harus ngelab tiap hari untuk kompetisi iGEM, sempat semingguan udaranya panas banget mencapai 35 Celcius. Bedanya dengan di Indonesia, bangunan di Eropa kan memang tidak dirancang untuk suhu panas dengan ventilasi terbatasnya, jadi di dalam ruangan pengap luar biasa. Kalau di lab yang sekarang sih ada AC😀
  2. Jauh dari keluarga, jadi biasanya sahur sendiri, buka sendiri, masak sendiri…. Soalnya kalau mau buat buka bersama kemalaman juga.
  3. Sulit untuk tarawih berjamaah karena jamnya terlalu malam, agak riskan ya kalau pulang sendiri habis tarawih berjamaah di tengah malam.
  4. Sulit mengatur waktu tidur! Menahan lapar sih relatif mudah tapi menahan kantuk di saat bekerja itu super menantang. Karena waktu antara sahur dan berbuka sangat pendek, biasanya malam hanya bisa tidur sedikit atau bahkan tidak tidur sama sekali. Kerja setelah tidur habis Subuh tanpa sarapan atau minum juga nggak enak di badan. Ada teman yang strateginya datang awal pulang cepat, lalu tidur menjelang berbuka. Untungnya jam kerja saya bisa fleksibel sih jadi bisa mengikuti ritme tidur selama Ramadan.
  5. Orang di sekitar kita pada nggak puasa dan warung makan (termasuk: truk es krim, kedai minuman-minuman dingin, dll) tetap buka. Jadi suka kepingin….

Suka-nya berpuasa di Eropa:

  1. Karena muslim minoritas jadi ada sense of community yang meningkat di bulan puasa. Masjid dan mushola kampus jadi aktif mengadakan bukan bersama (makan gratis!) dan kajian-kajian. Ya sebenarnya sama sih kayak di Indonesia.
  2. Impact di badan jadi lebih terasa. Di hari-hari pertama badan akan terasa dingin, lalu di hari-hari berikutnya akan terasa menghangat, konon karena sistem imun meningkat.
  3. Nggak ada iklan sirup, nggak ada yang mengingatkan kalau kita sedang puasa, nggak ada tukang jualan es ini-itu menjelang berbuka… menurut saya ini membuat puasa jadi lebih ‘khusyuk’ dan program menyehatkan badan akan jadi lebih terjaga. Plus karena semua kehidupan pekerjaan berjalan seperti biasa maka sebenarnya jadi nggak terlalu terasa puasanya.
  4. Tapi kadang-kadang di supermarket terutama di daerah yang banyak muslimnya jadi menyediakan satu pojokan untuk memasang banner selamat Ramadan dan menjual produk-produk halal. Rasanya excited banget menjumpai tempat seperti ini.
  5. Karena puasanya panjang mudah-mudahan jadi panjang juga pahalanya:)

Tips-tips berpuasa di daerah non-tropis di musim panas:

  1. Beberapa hari sebelum puasa mungkin ada baiknya melatih jam biologis perut dengan misalnya mengurangi/menunda makan siang dan menunda makan malam menjadi jam berbuka puasa. Ini supaya tubuh tidak ‘kaget’.
  2. Pintar-pintar mengatur waktu tidur dengan memperhatikan jam kerja dan jam makan. Saya tahun lalu biasanya mulai kerja agak siang lalu pulang agak malam pas sebelum jam berbuka puasa (sekitar jam 9 malam). Ada teman yang jadwalnya malah kebalikannya, tidurnya sebelum buka puasa. Yang sulit adalah yang kerja kantoran karena waktunya nggak fleksibel. Tapi pada dasarnya kan sehari ya tetap 24 jam, tinggal pintar-pintar saja mengalokasikan waktu dan membiasakan diri.
  3. Tetap produktif. Pertama, supaya tidak terasa puasanya. Kedua, sebagai umat muslim kita harus menunjukkan bahwa puasa nggak berarti turun produktivitas dong.
  4. Supaya nuansa dan tujuan Ramadan tetap terjaga, jangan lupa ‘makanan’ rohaninya… meski kerja tetap jalan, tapi sambil sahur atau berbuka bisa mendengar atau menonton ceramah/kajian-kajian, juga meningkatkan ibadah sunnah dan baca Quran (semoga saya bisa mempraktekkannya).

Selamat mempersiapkan Ramadan ya teman-teman di seluruh dunia….

***

 

Yang tak mampu terungkapkan

Sebagai seorang natural introvert, saya sehari-hari lebih banyak berdialog dengan diri sendiri. Selain dengan orang-orang yang sudah saya kenal dekat (dalam hal ini saya bakal banyak bicara), saya biasanya lebih banyak diam dan mendengar. Dalam kasus ekstrim, menghindar. Di situasi satu-lawan-satu dengan lawan bicara yang bisa bahasa Indonesia, saya sudah lumayan bisa menginisiasi pembicaraan – setelah latihan bertahun-tahun – meskipun masih akan merasa lega kalau ada satu atau lebih orang lagi datang sehingga tanggung jawab basa-basi akan terbagi. Akan tetapi di lingkungan bahasa Inggris, masih sulit untuk saya berbasa-basi dan mengobrol karena tidak terasa natural.

Hal lain yang terasa tidak natural untuk saya adalah mengemukakan pendapat. Di Indonesia mungkin hal ini lebih lazim, tapi baru terasa sekali di Inggris bahwa orang-orang ketika membicarakan suatu topik biasanya memiliki pendapat pribadi – dan mereka sangat kuat dengan pendapat mereka. Beda pendapat pun tidak apa-apa, dari situlah obrolan seru bisa dimulai. Saya? Bahkan saya kadang tidak yakin dengan pendapat saya sendiri. Saya lebih sering terbawa dengan pendapat orang lain.

Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti workshop tentang women self-development “Springboard” yang diadakan oleh kampus. Di dua pertemuan pertama (total empat pertemuan yang berselang satu bulan satu sama lain) topik yang dibahas adalah tentang siapa diri kita: apa values yang menjadi basis kita di kehidupan sehari-hari, menilai kelebihan dan kekurangan diri, membuat strategi untuk keseimbangan kehidupan kerja dan pribadi, dan lain sebagainya. Salah satu topik yang menurut saya menarik adalah bagaimana mengadapi inner voice yang negatif. Salah satu strategi yang diusulkan adalah dengan tidak menyangsikan suara negatif itu namun mengubahnya dari sudut pandang lain sehingga lebih bernada positif.

Saya jadi teringat, selama workshop saya banyak diam di kelompok saya. Kadang-kadang saya punya pendapat tapi kemudian karena teman sekelompok saya sudah dengan pedenya bicara duluan, saya jadi membatalkan niat untuk bicara. Saya sering ragu untuk masuk dalam diskusi yang sudah berjalan seru. Apalagi saya sering ragu dengan pendapat saya sendiri.

Maka dalam diskusi tentang inner voice, di mana tiap peserta diminta memberikan satu contoh inner voice negatif dari kepala masing-masing, saya mengatakan: “Inner voice saya… tidak ada gunanya mengatakan pemikiran saya.” Ya, begitulah saya selalu menganggap, tidak ada gunanya tiba-tiba masuk ke obrolan yang toh sudah seru dengan sendirinya. Saya ngomong atau tidak kan sama saja.

Lalu teman sekelompok saya pun mengusulkan beberapa “suara alternatif” yang lebih positif. Dari hasil diskusi kami ada satu kalimat yang paling mengena yaitu: “Kalaupun seandainya cuma 10% pendapat saya yang bermanfaat, semakin banyak saya menyampaikan pendapat saya maka kemungkinan semakin banyak saya akan memberi manfaat.”

Kalimat itu mengena karena sangat logis, mengandung unsur “saya perlu banyak berlatih” dan “jangan takut salah”, juga tidak bertentangan dengan inner voice asli saya. Maka saya pun langsung mencoba menerapkan kalimat tersebut di waktu workshop yang tersisa hari itu.

Hari itu workshop diakhiri dengan menyampaikan satu kalimat pujian kepada teman sekelompok. Tiba giliran saya, teman sekelompok saya berkata: “Aishah… sejak kita membahas tentang menyampaikan pendapat, kamu langsung selalu mengungkapkan pendapatmu, tiga kali. Well done.”

Dan saya merasa sangat senang dan bangga saat itu.

***

Tidur

Baru-baru ini, diawali oleh suatu alasan kesehatan, saya menemukan kembali arti dan kenikmatan dari tidur. Dalam suatu masa, saya membiarkan diri saya tidur saat mengantuk dan bangun dengan alami. Lalu saya menyesuaikan kegiatan lab dengan jadwal tidur natural saya tersebut. Rasanya nyaman banget.

Sayangnya tidur hanya terasa nikmat saat tubuh ingin tidur. Nah seringkali tubuh, pikiran, dan aktivitas harian tidak singkron dalam hal janjian waktu tidur. Ketika lagi asyik berpikir, tiba jam tidur “normal”, lalu jadi nggak bisa tidur karena kebanyakan pikiran. Kadang juga saya sengaja banyak beraktivitas supaya malamnya bisa mudah tidur di jam “normal”, tapi kadang kalau kecapekan saya justru susah tidur. Ketika akhirnya bisa tidur, di pagi hari ketika sudah waktunya bangun, saya yang bangun untuk ke kamar kecil atau sholat Subuh kemudian masih terbawa mood tidur. Karena malamnya belum cukup tidur, di pagi hari tubuh seakan tidak memberi pilihan lain selain tidur.

Kalau dipaksa beraktivitas ketika kurang tidur, rasanya nggak ada motivasi dan otak nggak mau diajak berpikir untuk menulis thesis. Badan nggak mau diajak bergerak untuk mengerjakan eksperimen. Seharian saja begitu, seolah badan mau protes, “Salahnya nggak dikasih tidur cukup….”

Wahai pikiran dan ragaku, cobalah berkompromi sedikit agar kita bisa beraktivitas dengan normal, karena sering kali kita perlu bekerja bersama orang lain di jam yang normal.

***

Tips Terbang Jarak Jauh

DSC00436

Alhamdulillah winter break kemarin saya sempat lagi untuk ‘melarikan diri’ dari dingin dan mendungnya UK untuk pulang kampung ke Indonesia. Sejak pertama kali ke luar negri sendirian (Paris 2011), mungkin sudah lebih dari 10 kali saya melakukan perjalanan jarak jauh via udara. Awal-awalnya tentu grogi apalagi sendirian kan, tapi lama-lama sih sudah biasa. Ya saya juga nggak menyangkal kalau masih kadang suka deg-degan kalau pas di udara ada turbulence (padahal sebenarnya sih aman), tapi sekarang saya sudah punya kiat-kiat sendiri untuk sukses dan happy terbang jarak jauh yang akan saya share berikut ini!

Bawa bawaan yang mampu kita handle sendiri

Mungkin memang ada troli, ada yang antar/jemput dsb tapi ada kalanya kita dihadapkan pada situasi di mana kita harus membawa semuanya sendiri (meskipun berat).

Bawa bawaan ke kabin yang seringkas mungkin

Selain barang yang di check-in ke bagasi, memang sih kita dapat ekstra 7kg untuk bagasi kabin. Tapi, yang namanya airport itu kan gedeee banget ya. Jadi untuk pindah dari satu tempat ke tempat lain itu ya lumayan juga jalannya. Terlebih kalau transit dengan waktu yang mepet, akan lumayan rempong kalau bawaan kita nggak ringkas. Ringkas di sini ya sesuai kenyamanan masing-masing, saya sendiri lebih prefer koper troli karena kalau pakai backpack gede suka pegel-pegel, tapi mungkin ada yang suka backpack-an.

…plus satu tas kecil untuk paspor, tiket, handphone dan lain-lain

Kalau bisa juga, jangan banyak ngantongin barang, karena nanti bakalan disuruh keluarin untuk security check. Termasuk kalau bisa hindari ikat pinggang karena ada kemungkinan disuruh buka juga.

Tidur

Saya kadang suka bergantung pada obat anti mabok supaya bisa tenang di perjalanan. Sama bawa bantal leher supaya tidurnya enak. Ya sebenarnya sih di pesawat juga ada hiburan film, game dll tapi bikin stress gak sih kalau perjalanan jauh nggak nyampe-nyampe, apalagi kalau cuacanya lagi nggak oke. Plus kalau tidur kan bisa lebih fresh sewaktu sampai di tempat tujuan.

Tapi juga usahakan sudah tidur cukup sebelum berangkat

Karena perjalanan jauh itu meski nggak ngapa-ngapain (duduk aja di pesawat) tetap saja capek. Capek + sudah capek sebelumnya = gawat buat mood, kesehatan, dan meningkatkan resiko-resiko pengalaman aneh seperti salah baca jadwal, ketinggalan pesawat dll.

Banyak minum

Supaya tetap segar terutama di dalam udara pesawat yang kering. Maka bersahabatlah dengan toilet pesawat hehe.

Siapkan toiletries di tempat yang mudah terjangkau

Karena sewaktu terbang agak susah sih untuk buka-buka kabin di atas (mungkin karena saya pendek :v). Biasanya saya sedia tissue basah, pelembap muka, bedak, dan sikat gigi.

Bangun paling nggak satu jam sebelum mendarat

Jadi ada waktu buat rapi-rapikan diri, cuci muka, sikat gigi, dan sebagainya, sehingga pas landing badan lumayan segar dan siap untuk menikmati tempat tujuan. Soalnya saya suka agak cranky sih kalau misalnya lagi enak-enak tidur terus harus turun pesawat, haha. Jadi saya perlu persiapan mental yang cukup:)

Sok pede

Kadang kita malah jadi kena random check di airport kalau kitanya agak kelihatan bingung-bingung gitu. Jadi angkatlah kepala dan berjalanlah seolah-olah di catwalk hehehe.

Dan tips terakhir dari saya:

Naik pesawat memang kadang ngeri-ngeri sedap, mungkin sebab naluri manusia yang berhati-hati dengan ketinggian, apalagi dengan berita-berita kecelakaan-kecelakaan tragis. Tapi sebenarnya pesawat adalah alat transportasi yang dirancang seaman mungkin. Saya rasa juga waktu saya naik pesawat Jakarta-London kemarin itu jauh lebih safe daripada ketika saya naik Damri dari Gambir ke Cengkareng hehehe. Satu hal yang selalu saya katakan ke diri sendiri, kalau malas atau takut naik pesawat lama-lama, yaudah nggak usah! Ini kan pilihan hidup. Tapi selalu deh rasa kangen tanah air (atau kebahagiaan bisa belajar di Oxford, untuk perjalanan sebaliknya) mengalahkan kemalasan dan ketakutan saya.

Semoga ada yang bisa diambil ya dari tips-tips saya. Safe and happy flight!

***

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 37 other followers