Adikku autistik

IMG-20181006-WA0004

Waktu Ahmad lahir, saya sudah 9 tahun, dan sudah punya dua adik sebelumnya. Jadi, sewaktu Ahmad didiagnostik autisme di usia sekitar 3 tahun, saya sudah cukup bisa diberi pengertian. Memiliki adik berkebutuhan khusus itu mau tidak mau membuat jadi cepat dewasa dalam beberapa aspek. Saya dulu sering ikut menjemput Ahmad di sekolah khususnya, berinteraksi dengan anak-anak autis teman sekolahnya, dan mempraktekkan materi terapi Ahmad di rumah. Saya tumbuh menyaksikan Ahmad pertama kali mengoperasikan komputer, belajar mengucapkan kata-kata dengan keterbatasannya, dan menjadi “korban” diajak Ahmad bercanda dengan caranya sendiri.

Saya baru sadar dampaknya ke saya, yang bisa dibilang dampak positif, ketika teman saya (yang masih single) berkomentar, “Aish itu sabar ya kalau jalan-jalan sama anak-anak.” Di Inggris saya sering jalan-jalan bareng teman yang sudah berkeluarga, lengkap dengan keluarganya. Memang kalau jalan dengan anak kecil itu kan harus mengikuti ritme dan kesukaannya, tidak bisa ambisius mengunjungi banyak tempat dan landmark. Kadang yang dewasa harus mengalah kalau si anak lapar/rewel/pengen pipis. Di keluarga saya, sejak saya kecil agenda travelling kami sangat dipengaruhi dengan kondisi Ahmad. Kalau tidak direncanakan dengan baik, kadang lokasi atau situasi tertentu bisa membuat dia tantrum. Hal itu membuat saya terbiasa mengalah dan tidak pernah punya banyak keinginan untuk jalan-jalan ke mana-mana. Yang penting santai, tidak kecapekan, dan semua senang.

Kadang sedih juga, di saat teman-teman saya di Inggris bisa mengundang orang tua mereka ke sana untuk berkunjung, sementara orang tua saya terbatasi Ahmad. Sempat juga menahan perasaan ketika menemani orang tuanya teman saya di Inggris kemudian ditanya, kenapa Aish nggak mengundang orang tuanya ke sini? Kalau menjelaskan ke teman-teman saya sih biasanya pada mengerti tapi orang tuanya teman agak sulit untuk memahami kondisi keluarga saya, sementara saya sebenarnya juga ingin dapat kunjungan.

Tapi di luar itu sih saya nggak merasa perlu dikasihani atau di”salut”i; punya anggota keluarga berkebutuhan khusus itu toh hanya satu macam keunikan yang kebetulan dimiliki keluarga kami dan banyak keluarga lainnya. Sementara di keluarga lain, mungkin ada yang anggota keluarganya artis terkenal, ada yang melewati perceraian, ada yang mengalami kebangkrutan, ada yang tinggalnya pindah-pindah negara karena pekerjaan, dan lain sebagainya. Dan lagi, autisme itu bukan penyakit melainkan cara otak memproses informasi yang berbeda, sehingga meski ada yang bisa dilatih untuk hidup layaknya orang tidak autis, tapi bukan sesuatu yang bisa/perlu disembuhkan.

Jadi, shout out to autism siblings everywhere! Punya saudara autistik atau berkebutuhan khusus lainnya itu ada ups and downs-nya, tapi pada akhirnya kita bisa banyak belajar. Btw, jujur saya sering mendengar, “Oh teman/sepupu/kolega/saudara-jauh-nya-saudara saya juga punya anak autistik”, tapi saya jarang mendengar yang punya saudara autistik. Kayaknya seru juga loh kalau bisa sharing pengalaman dengan teman-teman yang juga punya saudara autistik.

***

Advertisements

Pengalaman menggunakan menstrual cup (Part 1)

Sebagaimana mayoritas perempuan Indonesia, saya menggunakan pembalut sekali pakai sejak saya pertama haid di usia sekitar 13.5 tahun, selama kurang lebih 7 hari setiap bulannya. Di Indonesia, jenis-jenis pembalut itu BANYAK banget. Mulai dari yang normal, besar, super tipis, super tebal, pakai sayap, pakai tambahan “pagar” di atas sayap, bahkan yang pakai herbal dan terasa dingin dipakai juga ada. Nah, sewaktu saya tinggal di Inggris, jumlah pembalut inovatif seperti ini lebih terbatas (ya ada sih yang jual pembalut dengan teknologi smart-foam, bayangkan ada busa pintarnya coba), mungkin karena banyak perempuan yang memilih untuk menggunakan tampon. Jadi tidak perlu lama trial dan error bagi saya untuk menemukan satu merk yang… paling mendingan di antara yang lain. Mendingan ini kriterianya: paling minim resiko tembus. Karena kebetulan saya termasuk yang punya heavy flow.

Entah karena pembalut Inggris yang kurang oke atau udaranya yang berbeda, pemakaian pembalut ini menyebabkan di kulit saya sering timbul semacam kringet buntet atau ruam popok (?) yang cukup mengganggu. Selain itu, karena haid saya banyak dan maunya pembalutnya harus yang itu, yang itu sebenarnya cukup mahal, jadi saya suka sebel sendiri tiap kali belanja pembalut: sudah mahal, bikin gatal, cuma dibuang lagi tiap 2-3 jam! (ini di atas penderitaan yang lebih basic seperti sakit kepala dan kram perut). Akhirnya saya mulai melihat-lihat alternatif produk kewanitaan yang bisa saya gunakan. Tampon mungkin akan sama saja borosnya (dan daya tampungnya di bawah pembalut maxi). Lalu saya teringat stiker iklan menstrual cup yang tertempel di toilet mushola kampus.

20181019_135950
Menstrual cup dan kantong penyimpannya (merk Organicup)

Menstrual cup (cawan menstruasi?) adalah produk kewanitaan yang terbuat dari (umumnya) silikon, dimasukkan ke lubang vagina seperti tampon, tapi dia tidak menyerap darah melainkan menampung ke cawannya. Menstrual cup bisa dipakai berulang-ulang dan kita hanya perlu mengosongkannya di toilet kalau sudah terasa penuh.

Awalnya saya ragu juga untuk mencoba. Ide memasukkan sesuatu ke lubang vagina saja agak mengerikan, tapi sebenarnya yang membuat saya lebih ragu itu karena harganya yang mahal hehehe (di toko obat Boots di Inggris harganya di range 20-30 Poundsterling). Dalam jangka panjang memang akan hemat, tapi kan iya kalau cocok, kalau nggak? Jadi sebelum membeli, saya baca-baca dulu review di internet, blog pengalaman yang sudah menggunakan, hingga video-video tutorial (favorit saya channel Youtube Precious Stars Pad yang membahas segala tentang reusable menstrual products). Termasuk, saya juga mempelajari artikel tentang penggunaan menstrual cup bagi perawan.

Karena didorong oleh kerepotan dan penderitaan di masa haid dan berbekal literature research yang telah saya lakukan, akhirnya saya nekat membeli menstrual cup. Tapi namanya juga waktu itu mahasiswa kehabisan beasiswa, cari yang murah dong untuk nyobain dulu. Saya beli di Amazon UK merknya Spequix. Datangnya lama banget soalnya dikirim dari Tiongkok, tapi untungnya datang sebelum saya cabut balik ke Indonesia.

spequix
Menstrual Cup SPEQUIX (sumber: Amazon UK)

Jadi gimana pengalaman memakainya? Menurut saya sih, ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Awal-awal saya pakai cermin kecil untuk memastikan saya sudah “melakukan hal yang benar”, tapi setelah beberapa kali pemakaian, langsung terbiasa. Tapi memang harus telaten membersihkan setelah mengosongkan, cuci tangan yang bersih sebelum dan setelah pemakaian, dan merebusnya di air mendidih di antara masa haid supaya steril. Hanya masalahnya karena haid saya banyak, jadi perlu sering-sering (di hari “puncak”-nya bisa 2 jam sekali) mengosongkannya (ini sedang order baru yang kapasitasnya lebih besar). Biasanya saya menggunakan pembalut kain (reusable) sebagai back-up.

Kalau buat saya keuntungan pakai menstrual cup itu: tidak banyak sampah (ramah lingkungan), lebih nggak “berantakan” sewaktu mandi/ganti pakaian dalam (bisa juga untuk berenang), nyaman di kulit, dan hemat — tidak harus nyetok pembalut banyak-banyak! Terus rasanya juga lebih bebas beraktivitas. Setelah yakin ingin convert menjadi pengguna menstrual cup, saya pun membeli yang kualitasnya lebih bagus (Organicup dan Merula cup). Untuk review dan perbandingan merk-merk ini tunggu di postingan selanjutnya ya…. Oh ya, saya belum tahu apa sudah ada supplier menstrual cup di Indonesia, tapi kalau mau order online bisa lewat supplier di Singapura LiveLoveLuna.

Nah, kalau ada pembaca yang mungkin masih ragu menggunakan menstrual cup tapi ingin memakai produk yang ramah lingkungan, sekarang sudah banyak yang jual pembalut kain reusable di toko-toko online di Indonesia. Atau kalau sekarang yang ngetren juga adalah celana dalam haid (period panties), misalnya merk Thinx atau Modibodi, yaitu celana dalam yang bisa sekaligus menyerap cairan, tapi saya belum menemukan yang serupa di Indonesia (bisa jadi ide bisnis?).

(Bersambung)

***

Didikan Bapak

Suatu hari.

“Pak, kalau aku nanti nggak menikah, gimana Pak?”

“Ya nggak apa-apa, kan itu sunnah, tidak wajib.”

***

Di sebuah department store. Saya dan adik saya dengar musik, lalu joget-joget.

“Pak, Bapak malu nggak kalau anaknya joget-joget di mall?”

“Nggak lah. Kalau kamu mencuri atau ngutil ya Bapak malu sekali. Tapi kalau cuma joget-joget ya nggak masalah.”

***

A dream

Dalam suatu mimpi saya mendaftar kompetisi menulis buku. Kompetisi ini kecil-kecilan, pesertanya hanya 10an orang, dan bukunya ditulis tangan dan diilustrasi sendiri dan harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu sekitar 1-2 jam. Sayangnya, sebelum saya memulai mengerjakan buku itu, saya harus parkir sepeda dan dalam proses itu, sepeda saya rusak — beberapa bagian sepeda saya lepas, mur baut di mana-mana. Jadi saya mulai memperbaiki sepeda sebisa saya. Beberapa orang datang membantu memperbaiki sepeda. Meskipun banyak bantuan, ini sepeda saya, jadi saya yang tahu benar cara memperbaikinya, jadi saya harus stay di sana dan menyelesaikan perbaikan sepeda. Akhirnya sepeda selesai diperbaiki, meski banyak bagian yang masih rusak di sana-sini. Saya kembali ke tempat kompetisi. Ternyata kompetisinya sudah selesai dan panitia sedang mempersiapkan untuk mengumumkan pemenang. Saya menangis dan menjelaskan alasan keterlambatan saya — berharap mereka bisa mengerti dan memberikan tambahan waktu. Tapi tidak ada yang peduli meski saya menangis tersedu-sedu. Kompetisi telah berakhir.

What a metaphor.

***

Kegagalan adalah keberhasilan yang tidak tercapai

Saya diberi deadline untuk submit thesis (Indo: disertasi) 20 April dan saya tidak berhasil memenuhinya. I applied for extension (have been granted one term). There you go.

Pada titik ini saya masih menulis thesis dan mengejar target baru. Jujur, menjaga motivasi itu sangat sulit. Satu, harapan untuk pulang setelah submit sudah pupus, dan itu artinya semakin lama saya di sini tanpa mudik. Mbak Toyib 2.0 deh. Dua, sebagai orang yang menyelesaikan SMP+SMA dalam 4 tahun, melebihi tahun keempat di Oxford itu rasanya panjang sekali seperti terowongan yang nggak ada ujungnya. Terakhir, ketidakberhasilan memenuhi target awal memberikan sense of failure. Man, saya nggak berhasil. Gimana coba kalau saya gagal lagi (memenuhi target baru)… jadi tambah jatuh self-esteem saya kalau dipikir-pikir terus.

Ya tapi namanya hidup, memang perlu ada gagal-gagalnya dikit kan. Gagal daftar beasiswa, gagal diterima kuliah, gagal memperseriusi gebetan, gagal bikin macaron (semua pernah saya alami). Memang nggak perlu gagal sendiri untuk ambil pengalaman sih kan bisa belajar dari kegagalan orang lain. Tapi nggak perlu juga membandingkan kegagalan (dan keberhasilan) diri sendiri dengan orang lain.

Anyway saya mau kasih sedikit tips nih. Saya paling sebel kalau disemangati dengan kata-kata “kamu pasti bisa”. Siapa elu menjamin saya pasti bisa?? Yang lebih tahu kan saya sendiri. Banyak yang bilang saya pasti bisa submit tepat waktu, buktinya saya nggak bisa. Oke, saya paham sih kalau niatnya baik. Tapi kan… saya lebih suka dibilangin “nggak papa kamu gagal atau berhasil we’ll always be on your side”. Lebih sweet kan hehe.

***

Zaman sudah berubah

Saya kuliah di luar negri salah satu motivasi terbesarnya adalah terinspirasi dari melihat Bapak yang dulu kuliah di Kanada (yang menjadikan saya nebeng lahir di sana juga). Saya melihat banyak pola pikir Bapak dan Ibu yang terpengaruh oleh pengalaman tinggal di luar negeri. Dan karena orang tua saya anggap lebih pengalaman dalam hal tinggal di luar negeri, saya sering tanya-tanya dan jadikan pengalaman mereka (dan ingatan saya yang samar-samar) sebagai rujukan.

Kemarin saya konsultasi sama Ibu, kira-kira barang apa ya yang perlu saya bawa pulang ke Indonesia nanti kalau sudah selesai kuliah, nanti sisanya saya wariskan ke orang lain/jual/buang. Masalahnya kan kalau naik pesawat jatah bagasinya terbatas, mau kirim paket ya lumayan juga bayar lagi. Sedangkan saya ingat dulu waktu pulang dari Kanada kami bawa banyak koper (ya 4 orang juga sih jadi jatahnya lebih banyak) dan kalau nggak salah ada yang dipaketkan juga. Yang saya ingat Bapak dan Ibu bawa mesin jahit, buku-buku tebal, sampai mainan-mainan saya dan Asma. Nah saya kan jadi kepikiran apa yang saya perlu bawa pulang.

Ibu tanya, lha barangmu yang paling berharga apa. Ya kayaknya barang saya gitu-gitu aja sih, baju, alat masak. Yang paling mahal kalau dijual ya mungkin sepeda (dan laptop, ponsel tapi itu sih sudah pasti dibawa pulang ya) tapi kan yakali bawa pulang sepeda, sudah pasti dijual ini kan. Barang-barang yang lain, bisa dengan mudah ditemukan di Indonesia. Kata Ibu zaman sudah berubah, sekarang sudah zaman global, mau beli apa-apa di Indonesia sudah ada.

Memang benar kayaknya sih — bahkan waktu saya pertama ke Eropa tahun 2011, belanja online belum ngetren, Gojek mungkin baru merintis, dan nggak punya Google map di ponsel bukanlah hal aneh (saya di Paris 2011-2013 bahkan nggak langganan internet mobile, kemana-mana modal print-print-an Google map atau peta analog – dan saya survived!!). Sekarang, semua berubah begitu cepat. Nah apalagi kalau mau menjadikan pengalaman Bapak dan Ibu di Kanada tahun 90an sebagai rujukan untuk survive di luar negeri di tahun 2018, tentunya sudah banyak sekali hal yang tidak lagi relevan.

Nampaknya, banyak penyesuaian yang perlu saya jalani jika saya pulang dan menetap di Indonesia tahun 2018, secara mindset saya masih sebagai pemudi Indonesia tahun 2011. Kejutan apa yang menanti saya nanti sepulang ke Indonesia for good, we’ll see.

***

Term terakhir

… telah tiba! Hillary 2018!

Ternyata lama juga sih jadi mahasiswa S3 itu. Sepanjang saya S3 saya menyaksikan anak teman saya dari yang baru keluar beberapa kata, sampai banyak ngomong, terus ibunya hamil lagi, dia punya adik, adiknya merangkak lalu bisa jalan kesana kemari…. dst. Sepanjang saya S3 saya menyaksikan teman saya mulai dari jomblo sampai menikah, punya anak, anaknya bisa jalan dan bisa high-5-an sama saya. Saya mulai S3 sewaktu Pak SBY sedang menjabat sebagai presiden dan kini orang sudah mulai heboh mau pilpres lagi tahun depan. Selama saya S3 saya menyaksikan voting Brexit dan kehebohan Trump menjadi presiden. Sewaktu saya mulai S3 saya masih pakai Galaxy mini yang nggak kompatibel untuk Path dan Line dan sekarang saya telah meninggalkan kedua app tersebut dan menggunakan Samsung A3 yang bisa untuk nonton Insta live para seleb (kok ya sempat). Sepanjang S3 saya berevolusi mulai dari yang cuma bisa bikin kue sekedar edible sampai nampak Instagramable, at least untuk ukuran saya sendiri.

Tapi sebagai akademisi apakah skill saya banyak berkembang? …. Kok saya nggak merasa tambah pinter ya.

Yang jelas saya bersyukur teman-teman saya (sebagian) belum bosan berteman sama saya meskipun tidak banyak perkembangan sejak 4 tahun yang lalu.

***

Ramadan lagi!

Alhamdulillah tahun ini saya masih dapat dipertemukan dengan bulan suci Ramadan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya kembali melewati Ramadan di lab, ribuan mil jauhnya dari keluarga, dan dalam musim panas yang berarti puasa >18 jam sehari. Sudah tidak kaget lagi sih karena saya sudah menjalaninya sejak 2011. Akankah ini jadi Ramadan terakhir saya di Eropa? Huaa….

Di penghujung Ramadan 2011, saya baru pertama kali berpergian jauh sendirian, untuk memulai studi di Paris. Kalau dipikir-pikir waktu itu saya masih muda dan polos banget lol. Saya (yang sekarang) mungkin nggak akan mengizinkan saya (umur 20) untuk merantau sendiri, tapi waktu itu sih saya nekat saja. Selain itu juga saya nekat berpuasa padahal lagi menempuh perjalanan jauh dari Jogja ke Paris, yang berarti jam puasanya jadi super panjang. Padahal sebenarnya kalau sedang perjalanan jauh kan nggak puasa nggak papa. Tapi waktu itu saya sampai kaget sendiri begitu menyadari ternyata saya kuat juga ya puasa panjang pertama sambil perjalanan jauh sambil angkat-angkat koper.

Sejak saat itu saya sudah nggak meragukan kemampuan saya untuk berpuasa di musim panas hehehe, alhamdulillah!

Tahun ini kebetulan saya nggak sengaja terjebak dalam kepengurusan Islamic Society (ISoc)-nya University of Oxford, yang berarti saya terlibat di banyak kegiatan keislaman selama bulan Ramadan. Awalnya saya nggak ada rencana untuk jadi pengurus sih tapi ada yang mencalonkan saya untuk jadi Graduate Welfare Officer, jadi setelah berpikir panjang, yasudah saya ambil saja kesempatan ini, why not. Nah seumur-umur saya belum pernah jadi pengurus di organisasi keislaman entah itu rohis di sekolah atau di kampus, jadi ini pengalaman baru untuk saya.

Konon kabarnya, ISoc-nya Oxford ini termasuk yang paling “inklusif” dibanding ISoc kampus-kampus lain di UK. Setiap kegiatannya, meski tentunya mengusung nilai-nilai Islami, selalu terbuka untuk siapapun dengan apapun latar belakang keagamaannya. Ya mungkin karena di tempat minoritas juga sih. Tapi buat saya seru saja melihat dan mengikuti kegiatan-kegiatan semisal, buka bersama bareng Jewish society, atau menyaksikan inter-faith service di chapel salah satu college yang disertai bacaan ayat-ayat Al Quran. Ada yang lucu seingat saya ketika salah satu calon pengurus ISoc menyampaikan rencana kegiatan pembuatan video ISoc yang akan dilaksanakannya, dia bilang, “Kita akan berusaha merepresentasikan keragaman anggota ISoc di video ini, dengan menampilkan sisters yang pakai hijab dan nggak pakai, juga brothers yang…. berjenggot dan tidak berjenggot(?)”

Anyway, bagi saya yang “terjebak” di organisasi mahasiswa Indonesia (PPI dan sebagainya) selama bertahun-tahun, pengalaman berorganisasi dengan mahasiswa non-Indonesia ini berharga dan menyenangkan, dan sangat recommended! Saya jadi dapat teman-teman baru, pengalaman baru, dan belajar banyak dari interaksi dengan orang dari berbagai latar belakang.

Kembali ke Ramadan, target saya nggak muluk-muluk sih tahun ini, saya ingin hidup lebih sehat dengan memperhatikan pola makan, dan juga saya ingin menyelesaikan report untuk confirmation of status yang sudah berlarut-larut tertunda. Semoga eksperimen di lab dan menulis paper di bulan Ramadan juga terhitung ibadah ya kalau disertai niat baik. Doakan saya bisa selesaikan dengan baik ya teman-teman pembaca 🙂

Ramadan mubarak!

***

(Review) Aisyah: Wanita yang Hadir dalam Mimpi Rasulullah

15803492_1279561302100047_8473822955766284288_n

Aisyah r.a. adalah sosok yang menginspirasi orang tua saya ketika menamai saya (Aishah – hanya beda ejaan sih, kata ibu buat kenang-kenangan kalau saya lahir di Kanada), jadi sewajarnya sih saya sudah mempelajari kisah beliau dari dulu-dulu. Tapi namanya saya, suka merasa alergi dengan hal-hal berbau sejarah. Itu sebelum saya menemui buku karya Sibel Eraslan ini – novel yang ditulis berdasar kisah nyata (atau mungkin tepatnya fakta sejarah), genre buku kesukaan saya.

Berbeda dengan novel-novel based-on-true-stories karya Torey Hayden atau Cathy Glass yang jadi bacaan favorit saya sebelum-sebelumnya, buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama namun diceritakan oleh orang lain, sehingga dapat dimaklumi bahwa ada keterbatasan dalam olah ceritanya yang tidak dialami sendiri (dan terpaut puluhan generasi). Saya yakin buku ini menarik banget untuk pembaca yang suka dengan kata-kata puitis (banyak puisi yang diselipkan di tiap chapternya), tapi sisi puitis saya mungkin perlu banyak diasah, jadi banyak bagian puisi panjangnya yang saya skip hehehe.

Bagian-bagian awal novel ini agak kurang sesuai dengan ekspektasi saya – saya mengharapkan lebih banyak ulasan tentang Aisyah r.a. sendiri sebagai seorang wanita, namun saya tangkap lebih banyak cerita sejarah kenabian Rasulullah di masa kanak-kanak Aisyah r.a. Bagusnya saya jadi belajar kembali kisah Nabi. Namun di separo ke belakang setelah pernikahan beliau, mulai banyak cerita mengenai karakter Aisyah r.a. yang menarik karena saya bisa membayangkan secara bagaimana kehidupan di zaman itu. Misalnya, cerita tentang relationship Aisyah r.a. dengan istri-istri Rasulullah yang lain. Settingnya juga diceritakan detail sehingga saya bisa berimajinasi tentang kehidupan masa itu, misal diceritakan detail denah rumah Rasulullah dan tempat beliau memberikan lecture di masa itu, yang begitu humble untuk level setingkat nabi.

Nah cuma karena novel yang saya baca ini versi Indonesianya (diterjemahkan dari bahasa Turki), ada kalimat-kalimat yang terasa banget kalau itu versi terjemahan. Ya sayangnya sih saya nggak bisa bahasa Turki jadi nggak bisa baca aslinya….

Overall, maybe not so much my cup of tea tapi bacaan yang saya bisa baca sampai selesai dan merasa “nggak sia-sia” membacanya karena banyak menambah pengetahuan.

Terima kasih banyak kepada yang membelikan ♥

***

 

 

Makanya!

“Makanya nikah dong, biar ada yang bisa digandeng jalan-jalan!”

Bagaimana perasaan Anda membaca kalimat di atas?

Bandingkan dengan kalimat-kalimat berikut ini:

“Makanya kuliah di Oxford dong, biar bisa ngerasain belajar di universitas terbaik di dunia!” – atau, “Makanya kerja di *** dong, biar bisa dapat gaji banyak untuk nyicil apartemen!”

Kalimat pertama kok rasanya sering saya dengar, sedang kalimat kedua dan ketiga dianggap tabu untuk diutarakan.

Padahal yang berbicara dan lawan bicara sama-sama sepakat kalau jodoh, rejeki dan keturunan adalah hal-hal yang perlu diusahakan namun finalnya ada pada kehendak Yang Maha Kuasa.

Juga tidak jarang di media sosial saya melihat status haha hihi soal jomblo, pencarian jodoh, sampai ada yang mau buatkan kartu juga.

Padahal jodoh kan perkara serius, ini masalah pendamping seumur hidup lho! Juga masalah mempersiapkan keturunan dan pendidik untuk generasi yang akan datang. Ini apa nggak serius banget. Menurut saya ya harus di-approach dengan serius dong, bukannya jadi bahan guyonan.

***